Skip to main content

Full text of "Marxisme Dan Ketuhanan YME"

See other formats


Marxisme 

dan Ketuhanan Yang Maha Esa 

Martin Suryajaya Muhammad Ridha Hizkia Yossie Polimpung 



Kata Pengantar: Muhammad Al-Fayyadl 


INDOfPhOGRESS 





Maraisme dan Ketuhanan Yang Maha Esa 


Martin Suryajaya 
Muhammad Ridha 
Hizkia Yossie Polimpung 


Kata Pengantar: Muhammad Al-Fayyadl 


INDOfPROGRE SS 



Judul: Marxisme dan Ketuhanan Yang Maha Esa 

Editor: Coen Husain Pontoh 
Desain Sampul dan isi: Alit Ambara 
Diterbitkan oleh Pustaka IndoPROGRESS, 2016 


Penerbit: IndoPROGRESS, 2016 










Daftar Isi 


Kata Pengantar 1 

I. Martin Suryajaya Marxisme dan Ketuhanan YME 

II. Muhammad Ridha Tuhan sebagai Eksepsi 23 

III. Hizkia Yosie Polimpung Tuhan di Bumi 34 

IV. Martin Suryajaya Usaha Memetakan Tuhan 46 


Biodata Penulis 59 



Kata Pengantar 

Muhammad Al-Fayyadl 


PERDEBATAN yang dimunculkan oleh artikel-artikel dalam buku ini me¬ 
rupakan potret salah satu perkembangan terkini wacana ketuhanan dalam 
materialisme kontemporer. Di Indonesia, wacana ini umumnya bergerak 
dalam lingkup yang relatif eksklusif di lingkaran penekun sains spekula¬ 
tif (fisika teoretis, matematika murni, dst.); kehadiran antologi ini ingin 
menarik wacana ini sedikit lebih bergeser ke ilmu-ilmu sosial, meski mela¬ 
lui lensa metafisik, dari titik di mana wacana ini ditarik ke pangkal perta¬ 
nyaannya yang ontologis: idea “Tuhan” itu sendiri dan bagaimana idea itu 
berkontribusi pada emansipasi sosial. Dengan kata lain, suatu teologi bagi 
ilmu-ilmu sosial. 

Meski mengambil judul “Marxisme”, referensi yang ditunjuk oleh istilah ini 
tidak mesti merujuk pada Marxisme sebagai suatu tradisi pemikiran yang 
historis. Melalui Martin Suryajaya, “Marxisme” telah mengalami pembi¬ 
asan yang cukup sistematis dengan mengerucut pada doktrin ontologi ma¬ 
terialisme, dari materialisme mengerucut lagi kepada realisme. Dengan kata 
lain, gegara interpretasi ini, Marxisme menjadi nominalis: diambil naman¬ 
ya saja, tetapi untuk merujuk sesuatu yang lebih luas, melampaui Marx- 
isme yang kita kenal. Karena itu jangan kaget bila sangat sedikit rujukan 
pada Marxisme, karena yang hendak dihadirkan di sini sebenarnya bukan 
lagi Marxisme, tetapi Marxisme sejauh sebagai ontologinya saja. Karena¬ 
nya, judul yang lebih tepat seharusnya: Materialisme dan Ketuhanan yang 
Maha Esa. 

Sebelumnya, bagaimana mungkin diskusi ini terjadi di Indonesia, di mana 
Marxisme lebih dibaca sebagai tradisi pemikiran yang historis (dalam 
kaitannya dengan gerakan kiri) daripada murni filosofis? Buku ini mem¬ 
beri kesan ingin mematahkan mitos bahwa Marxisme itu ateistik dan 
anti-agama, mitos yang kita tahu, ingin diyakinkan oleh rezim yang do¬ 
minan hari ini di Indonesia pasca-Orde Baru. Namun, kesan itu keliru. 
Buku ini tidak hendak menjawab problem ideologis itu—yang sebenarnya 
jauh lebih penting dan mendesak. Tetapi, melalui argumen filosofis, buku 
ini ingin sekadar membuktikan bahwa materialisme-nya Marxisme tidak 


Martin Suryajaya, dkk. 


mesti mensyaratkan ateisme. Orang tetap dapat bertuhan, walau menga¬ 
nut materialisme. 1 2 Sesimpel itu. Soal kemudian apakah cara bertuhan-nya 
berbeda, atau apakah “Tuhan” yang dimaksud berbeda dari “Tuhan” yang 
diimani kebanyakan orang, itu soal kesekian. Yang penting dapat dibukti¬ 
kan bahwa seorang materialis dapat percaya. Bila ia tidak dapat beriman 
(faithless ), setidaknya ia dapat percaya (having a belief)} 

Diskusi ini tentu tidak akan menjawab ekspektasi Anda yang beragama, 
atau yang ingin mencari solusi atas Marxisme melalui keyakinan agama 
(misalkan Anda seorang Muslim, bagaimana Marxisme dapat memperkuat 
praksis revolusioner Anda melalui ajaran-ajaran Islam; demikian pula mi¬ 
salkan Anda seorang Katolik, Buddhis, atau Hindu). Sebabnya sederhana, 
karena prasyarat dan titik tolak dari problematika buku ini adalah mate¬ 
rialisme. Untuk mengikuti diskusi buku ini, dengan demikian, Anda ha¬ 
rus terlebih dulu menjadi seorang materialis. Sementara pertanyaannya, 
seberapa banyak dari kita yang terlebih dulu menjadi materialis sebelum 
beragama ? 

Arah yang dibawakan buku ini, dengan demikian, adalah baru, karena un¬ 
tuk itu Anda harus melakukan pergantian posisi ( switch ) dengan menga¬ 
sumsikan Anda bertolak dari posisi materialis untuk kemudian berteologi 
dari posisi itu. Dari situlah pertanyaan muncul: apa konsekuensi apabila 
kita berteologi dari posisi materialis? 

Kemunculan pertanyaan semacam ini tentu akan terdengar ganjil kecuali 
kita memahami latar belakang historis-diskursif mengapa pertanyaan itu 
bisa muncul, di negeri di mana Marxisme lebih diperlakukan sebagai suatu 
teori sosial, tanpa mengutak-atik suprastruktur teologis-kosmologis yang 
menjadi aras keyakinan dan acuan nilai masyarakat. 

Pertama, modernitas sekular yang berlangsung di tengah masyarakat kita 
telah menciptakan pergeseran-pergeseran di mana agama dan dunia meng¬ 
alami pemisahan yang radikal. Orang semakin dapat membedakan mana 
yang agamawi dan yang duniawi. Agama terjepit ke dalam ruang-ruang 


1 Artikel pertama Martin Suryajaya di buku ini. 

2 Slavoj Zizek, On Belief, London: Routledge: 2001. 


2 



MARXISME DAN KETUHANAN YANG MAHA ESA 


pribadi, ketika di sisi lain, pranata-pranata kehidupan semakin menguasai 
nyaris segala aspek kehidupan. Sebagai akibatnya, agama, beserta segala 
penjelasan teologisnya, tampak tak berdaya mengimbangi pergerakan il¬ 
mu-ilmu sekular yang memberi pola bagi kehidupan sosial. Sekularisasi ini 
terjadi di fase pembangunan Orde Baru (Orba), di mana agama direduk¬ 
si hanya menjadi salah satu “ideologi” pembangunan. Pada fase ini, me¬ 
lawan “idealisme” negara Orba, materialisme semestinya muncul sebagai 
antitesis untuk menunjukkan bahwa ide-ide yang ada, termasuk teologi 
dan ajaran agama, niscaya bersifat material. Melalui materialisme historis, 
itu dimungkinkan. Namun jangankan berpikir kritis dengan materialisme 
historis, menyebut “Marxisme” pun ditabukan. Pada fase ini, Marxisme 
hadir sebagai kritik atas fungsi ideologis agama; dengan demikian, kritik 
atas teologi kemapanan. Pada fase ini kita mengenal perjumpaan antara 
teologi dan materialisme historis melalui teologi pembebasan. Di era Orba, 
para agamawan yang berangkat dari teologi pembebasan, dari kalangan 
Katolik maupun Islam, berusaha mendorong teologi masuk menginfiltrasi 
ruang politis yang dinetralkan Orba dari pengaruh agama. 

Pasca-Orba, kita menyaksikan fenomena terbalik, yang dapat disebut “ba¬ 
likan religius”. Infiltrasi agama ke ruang politis tak terbendung, mencipta- 
kan fenomena di mana hal-hal yang duniawi menjadi ter-agamisasi; pola 
pikir agama merasuki segala aspek kehidupan. Timbul kegairahan atas a- 
gama dalam skala yang massif dan irasional. Perkembangan baru ini terja¬ 
di di atas fase kapitalisme global yang mencairkan batas-batas pergerakan 
modal. Agama turut menjadi bagian dari permainan kapitalisme ini dan 
menjadi modal yang siap dikonversi oleh pemeluknya. Keterbukaan ini 
menciptakan alternatif-alternatif dalam beragama; teisme tak lagi men¬ 
jadi satu-satunya pilihan. Keragaman pilihan untuk menjadi teis, ateis, 
agnostik, atau spiritualis dibuka. Namun, fase ini melahirkan kontradiksi 
yang lama-kelamaan memperlihatkan tendensinya: arus yang menjadi¬ 
kan agama sebagai aspek tak-sadar yang berpartisipasi di dalam kapital¬ 
isme global itu sendiri, melawan tendensi (yang semakin menguat) untuk 
menjadikan agama sebagai motor bagi perlawanan anti-kapitalisme dan 
penciptaan kehidupan alternatif. Kita bisa menyebut kedua tendensi itu 
sebagai oposisi antara conservative religious turn dan revolutionary religious 
turn. Untuk tendensi terakhir inilah, agama kembali menjadi objek kri¬ 
tik dan refleksi. Muncul pertanyaan: benarkah agama selamanya niscaya 


3 


Martin Suryajaya, dkk. 


pro-kemapanan? Kalau agama tidak niscaya pro-kemapanan, dari mana 
tendensi revolusioner agama itu dapat dibangun? Dari teologinya-kah? 
Muncul kebutuhan untuk beragama—dan memikirkan agama—secara 
“kiri”. Pertemuan dengan Marxisme pun kembali dimungkinkan. 

Namun, pertemuan itu terbelah antara dua kecenderungan. Antara kecen¬ 
derungan yang menitikberatkan pada materialisme historis, dengan mem¬ 
pertimbangkan kembali Marxisme dalam keterlibatannya membangun 
wacana yang kritis tentang agama, sekaligus memungkinkan perubahan 
sosial melalui jalan agama. Hal ini akan mengaktualkan teologi pembebasan 
(yang belum selesai), dalam bentuk yang bisa jadi lebih canggih. Dan ke¬ 
cenderungan kedua, yang menyusuri materialisme dialektis, dengan men¬ 
jadikan Marxisme suatu paradigma alternatif atas agama, yang, seperti 
agama, dipandang sebagai sistem berpikir yang komplit, integral, dan sis¬ 
tematik, hingga pada dimensi ontologisnya yang terjauh. 

Artikel-artikel buku ini berada dalam ruang pencarian dan kontestasi ini. 
Kita melihat tarik-menarik itu pada Martin Suryajaya di satu sisi, yang 
mengasumsikan bertitik-tolak dari materialisme dialektis untuk memberi 
pendasaran bagi materialisme historis, dan Muhammad Ridha dan Hizkia 
Yosie Polimpung, di sisi lain, yang melihat kesalingkaitan kedua materi¬ 
alisme ini dalam menerakan “iman revolusioner yang menyejarah”. Kita 
melihat tarik-menarik antara pandangan yang melihat Marxisme telah 
menyediakan suatu teologinya sendiri tanpa teologi agama, dan pan¬ 
dangan yang melihat Marxisme dapat mengadopsi teologi agama (yang 
historis), namun sekaligus mempertajam teologi agama itu melalui mate¬ 
rialisme dialektisnya. 

Betapapun berbeda, pangkal perdebatan ini adalah materialisme, sesua¬ 
tu yang relatif baru dalam wacana Marxisme kita. Yang baru adalah pe¬ 
nyikapan atas pokok ini. Dulu, seorang beragama dapat menjadi Marxis 
selama ia berpraksis secara Marxis, tanpa harus memverifikasi apakah ia 
seorang materialis “kaffah” atau parsial. Sekarang, verifikasi itu mungkin 
dilakukan—tentu dengan catatan, kalau Anda merasa itu perlu. 

Postur perdebatan ini tentulah spekulatif. Bagaimana tidak spekulatif, bila 
yang ingin dibangun adalah suatu konsepsi Marxis tentang “Tuhan”? De- 


4 


MARXISME DAN KETUHANAN YANG MAHA ESA 


ngan kata lain, perdebatan ini telah masuk ke jantung teologi dan metafi¬ 
sika itu sendiri. Sebagai pemantiknya, Martin Suryajaya ingin mendorong 
Marcdsme melangkah lebih jauh daripada sebagai kritik atas agama dan pe¬ 
mikiran kritis yang kontributif bagi teologi agama-, ia ingin Marxisme menja¬ 
di teologi itu sendiri. Materialisme dialektis perlu membangun teologinya 
sendiri, ujar Martin. Bagaimana dorongan ini dapat muncul? 

Hal ini tak lepas dari konteks. Para penulis antologi ini adalah generasi 
yang hidup dalam arus-konsumsi teori-teori (Barat) kontemporer, di mana 
filsafat, sains, dan matematika mengalami banyak kejutan dan revolusi 
paradigmatik. Publik Indonesia pasca-Orba pada umumnya juga hidup da¬ 
lam iklim ini, dan menyaksikan suatu ledakan konsumsi atas karya-karya 
teoretis dalam takaran yang cukup tinggi secara kuantitatif. Dalam iklim 
ini, penjajakan-penjajakan atas kemungkinan berteologi alternatif mun¬ 
cul, dari model “spiritualitas tanpa Tuhan”-nya Andre Comte-Sponville 3 
hingga “bertuhan tanpa agama”-nya Bertrand Russell. 4 Problem material¬ 
isme hadir di tengah arus ini, itu pun awalnya tidak dari Marxisme atau 
ilmu-ilmu sosial, melainkan dari sains teoretik (kosmologi dan fisika). Me¬ 
lalui Armahedi Mahzar dan para penulis-fisikawan Indonesia lain, sejak 
1980-an para ilmuwan fisika di Indonesia telah terlibat dalam dialog dan 
konfrontasi dengan beberapa tendensi materialisme dalam sains, dalam 
debat antara sains vis-a-vis agama. Penerjemahan buku Keith Ward, God, 
Chance and Necessity 5 dan buku-buku populer Richard Dawkins merupa¬ 
kan eksamplar dari eksisnya perdebatan ini. 

Dalam arus-konsumsi itu, kita menangkap bahwa pokok perdebatan ber¬ 
kisar pada pertanyaan-pertanyaan seputar eksistensi Tuhan, keterciptaan 
alam semesta, evolusi dan tujuan kehidupan, dan moralitas kehidupan 
(jika Tuhan eksis atau tidak eksis). Dengan kata lain, perdebatan ini me¬ 
rentang dari problem metafisik-ontologis hingga etis-aksiologis—perde¬ 
batan yang pada gilirannya keluar meluber dari lingkup sains murni dan 
melibatkan agama, filsafat, dan ilmu-ilmu sosial. Materialisme, dengan 

3 Andre Comte-Sponville, Spiritualitas tanpa Tuhan, Jakarta: Alvabet, 2007. 

4 Bertrand Russell, Bertuhan tanpa Agama, Yogyakarta: Resist, 2008. 

5 Keith Ward, Dan Tuhan Tidak Bermain Dadu: Argumen bagi Keterciptaan Alam Semesta, 
Bandung: Mizan, 2002. 


5 



Martin Suryajaya, dkk. 


kata lain, dapat memiliki implikasi luas tergantung sampai di mana kita 
menariknya. Hal ini juga memunculkan pertanyaan, apakah mungkin dan 
perlu materialisme ini diikuti secara utuh, dalam segala bidang ilmiah yang 
ada? Hingga kini, belum ada seorang pun ilmuwan materialis yang secara 
integral menyajikan materialismenya, dari sisi ontologis sampai aksiolo¬ 
gisnya. Juga belum ada seorang ilmuwan materialis yang menyajikan ma¬ 
terialismenya secara koheren di dalam keseluruhan ilmu-ilmu yang kita 
kenal. 

Perdebatan dalam buku ini, dengan demikian, barulah sekelumit dari 
medan materialisme, yang melibatkan irisan antara teologi dan sejarah. 
Dari pertanyaan “Di mana tempat Tuhan dalam materialisme?”, perde¬ 
batan buku ini mengerucut pada “Bagaimana ide ketuhanan membuat 
kesadaran mereka yang beriman selalu bergerak dan berupaya merealis¬ 
asikannya dalam kenyataan praktis?” 6 . Dengan kata lain, dari teologi sam¬ 
pai praksis, ontologi sampai aksiologi. 

Jika ada yang baru dari buku ini, hal itu bukanlah pada objek materialn¬ 
ya, tetapi pada modus intervensi dan pendekatan yang dipakai. Kebaruan 
ini ada pada dua ranah sekaligus: pada ranah materialisme dan ranah teo¬ 
logi. Pada ranah materialisme, baru kali ini ada upaya untuk menunjukkan 
bahwa materialisme yang konsisten dapat menerima ide ketuhanan yang 
esa (meski upaya itu, kita akan lihat, gagal 7 ) dan upaya untuk menunjuk¬ 
kan bahwa materialisme (yang inkonsisten) dapat berkontribusi pada sua- 
tu teologi dan keberagamaan yang revolusioner. 8 Modus intervensi ini, 
pada ranah materialisme, tergolong baru. Para ilmuwan materialis selalu 
menunjukkan bahwa materialisme niscaya kontradiktif dengan teisme, 
keyakinan akan Tuhan yang esa. 9 Materialisme (di luar buku ini) menga¬ 
jarkan ketiadaan aturan apapun yang suprakosmik, persis karena tidak a- 


6 Artikel Muhammad Ridha. 

7 Pada Martin Suryajaya. 

8 Pada Muhammad Ridha dan Hizkia Yosie Polimpung. Disebut inkonsisten karena po¬ 
sisi ini tetap mengandaikan Tuhan yang personal dan transendental (terhadap materi 
ataupun subjek). 

9 Ward, terutama Bab 5 “Metafisika Teisme”. 


6 



MARXISME DAN KETUHANAN YANG MAHA ESA 


danya gagasan apapun tentang Tuhan yang menetapkan aturan tersebut; 
karenanya bagi materialisme ini, semesta adalah sekumpulan materi yang 
muncul dan bekerja secara acak ( hazardous ) dan arbitrer, tanpa tatanan, 
harmoni, atau relasi kausal yang niscaya satu sama lain. Versi terkini dari 
materialisme ini, seperti diperkenalkan oleh Quentin Meillassoux, meng¬ 
gunakan istilah “kontingensi” untuk menyebut ketiadaan-aturan absolut 
ini. Tetapi Martin Suryajaya datang dengan gagasan yang mungkin aneh 
bahkan bagi para ilmuwan materialis pun: bahwa materialisme dapat men¬ 
jadi “teis” dan menerima hipotesa tentang Tuhan yang esa, dengan meng¬ 
asumsikan bahwa tatanan itu ada, dan Tuhan adalah adalah tatanan dan 
aturan itu sendiri. 

Caranya adalah dengan melakukan kombinasi yang ganjil (dan coba-co¬ 
ba) antara ontologi Leibniz, matematika Cantor, dan logika modal. Dari 
Leibniz, ia mengambil gagasan tentang totalitas kosmik dan prinsip suf- 
ficient reason (bahwa ada suatu alasan yang masuk akal bagi keseluruhan 
ihwal yang ada ini), namun membuang gagasan Tuhan personal yang jus¬ 
tru menjadi prasyarat dari metafisika dan prinsip sufficient reason. Dari 
matematika Cantor, ia mengambil teori himpunan yang saling mencakup, 
yang kemudian mengantar pada adanya suatu himpunan supra yang dise¬ 
butnya “Tuhan”. Dan dari logika modal (khususnya logika dialetheis yang 
menerima kemungkinan kontradiksi dan non-identitas, A = A sekaligus 
non-A), ia mengambil ketakmungkinan yang tetap dapat dipikirkan dan 
dihitung meskipun tidak dapat dibuktikan. Sebagai hasil eksperimentasi 
dan rekonstruksinya, tampak dunia berjenjang dan hierarkis yang berge¬ 
rak menuju taraf yang lebih luas, di mana Tuhan hadir sebagai puncak dari 
evolusi logis. 

Model pemikiran teologis yang berjenjang, saling mencakup, untuk kemu¬ 
dian pada satu titik mengandaikan Tuhan sebagai ujung hipotetik {Omega, 
ghayah) dari evolusi logis ini, kalau kita ingat-ingat kembali, persis meru¬ 
pakan model yang diajarkan oleh teologi agama-agama, yang memperk¬ 
enalkan distingsi antara semesta besar (makrokosmos) dan semesta kecil 
(mikrokosmos), dengan Tuhan sebagai sufficient reason mengapa semes¬ 
ta ini ada. Artinya, dilihat dari kandungannya, Martin Suryajaya sekadar 
menjiplak (mengimitasi) struktur kosmologis yang diperkenalkan oleh 
teologi agama. 


7 


Martin Suryajaya, dkk. 


Gagasan tentang semesta yang bertatanan, hierarkis, dan manunggal juga 
tidak lazim bagi para materialis. Martin mengandaikan suatu monisme on¬ 
tologis, di mana hanya ada satu semesta, walaupun di dalamnya banyak 
dunia (yang mungkin dan tak mungkin). Dan monisme ini persis merupa¬ 
kan inti dari teologi idealis, yang dalam puncaknya hadir dalam wujudnya 
mistisisme. (Kita bisa bandingkan ini dengan konsep kesatuan Wujud-nya 
Ibn ‘Arabi.) Materialisme kontemporer justru menegasikan monisme dan 
mengafirmasi pluralisme ontologis yang radikal, bahwa tidak ada satu se¬ 
mesta; bahwa semesta pada dasarnya adalah khaotik, berbeda dari model 
prinsip tatanan menyeluruh yang dipikirkan oleh Martin, dan karena itu, 
semesta pada dasarnya adalah tak-logis. 

Maka tidak terlalu mengejutkan apabila gagasan tentang semesta ini se¬ 
baliknya, contra materialisme, justru menjadi dalil bagi eksistensi Tuhan, 
penciptaan, dan finalitas semesta. Jauh sebelum Martin, Keith Ward, juga 
menggunakan ilustrasi teori himpunan, menulis: 

“Seluruh potensi yang bahkan sudah termaktub dalam realitas fisik se¬ 
menjak awalnya dan membentuk hakikatnya, diwujudkan secara konti¬ 
ngen atau dengan bebas, melalui tindakan kreatif. Semesta ini hanya sa¬ 
lah satu dari banyak semesta yang mungkin, dan akal kosmik memilihnya 
untuk diwujudkan serta menjamin tingkah lakunya sesuai dengan sep¬ 
erangkat hukum tertentu... Teori di atas adalah teori tentang penciptaan. 
Tuhan, akal kosmik itu, ada secara niscaya dan melingkupi segala kemung¬ 
kinan hukum dan semesta. Tuhan merupakan realitas aktual tempat da¬ 
pat ditemukannya segala kemungkinan, dan yang tanpanya tidak akan 
ada yang mungkin sama sekali. Himpunan dari seluruh kemungkinan itu, 
sudah tentu, termasuk sub-himpunan seluruh kemungkinan nilai yang 
terdapat pada semesta yang mana pun. Ini merupakan tujuan keberadaan 
yang mungkin, yang dipilih Tuhan untuk direalisasikan”. 10 

Satu-satunya yang mungkin baru dari pemikiran Martin Suryajaya ini ada¬ 
lah, agar gagasan ini tidak terlihat idealis dan tidak mengandaikan Tuhan 
yang transenden dari alam, ia melucuti Tuhan dari atribut esensialnya 
dan meleburkannya ke dalam tatanan tersebut, sehingga “Tuhan adalah 
semesta”, atau “semesta ini adalah Tuhan”. Ini sebab, Tuhan adalah “kese- 


10 Ward, 92. 


8 



MARXISME DAN KETUHANAN YANG MAHA ESA 


luruhan kemungkinan dan ketakmungkinan semesta itu sendiri”. 

Artinya, Tuhan adalah imanen sebagai semesta, dan tak sekadar ke dalam 
semesta. Ini juga membingungkan, dan secara logis fallacious. Jika semes¬ 
ta, sebagai keseluruhan hukum logis yang mungkin dan tak mungkin, ada¬ 
lah Tuhan, maka semesta itu niscaya—melalui kombinasi hukum-hukum 
itu—mampu menciptakan dirinya dan menghancurkan dirinya secara 
bersamaan. Argumen ini dapat dengan mudah dipatahkan dengan alasan 
berikut. Yaitu, terdapat jarak antara hukum logis dan kenyataan. Agar 
sesuatu itu mewujud, ia tidak semata-mata dapat dipikirkan, tetapi juga 
dilakukan. Seorang pelajar fisika kelas dasar pun mengetahui bahwa atom 
tidak dapat eksis hanya dengan dipikirkan atau dihipotesiskan. Ia eksis ka¬ 
rena ia diciptakan, atau berada dalam suatu kondisi yang memungkinkan¬ 
nya mewujud ke dalam kenyataan. Jika hukum-hukum logis semata dapat 
mewujudkan segala yang ada ini, maka hukum-hukum itu merupakan sua¬ 
tu perangkat inteligensi dari agensi tertentu. Dan itu adalah Tuhan, yang 
bukan merupakan bagian total dari hukum-hukum yang ada. Pembedaan 
antara inteligensi dan agensi inilah yang dileburkan, mengakibatkan ker¬ 
ancuan pokok dalam argumen ini. Pembedaan ini mengandaikan validnya 
konsep penciptaan dari Agen Pencipta, yang adalah bukan sepenuhnya ba¬ 
gian dari Semesta, tetapi berpartisipasi di dalam Semesta. 

“Teisme” Martin Suryajaya ini, karenanya, bukan teisme yang otentik, se¬ 
hingga bisa dipahami apabila gagasan ini tidak dapat mengadopsi konsep 
ketuhanan agama-agama. Ia merupakan suatu versi kontemporer dari 
deisme, yang secara formal merupakan suatu variasi dari pan-fisikalisme 
(konsepsi bahwa semuanya bersifat fisik, atau dapat dicandra oleh hu¬ 
kum-hukum fisika) dan pan-logisisme (konsepsi bahwa semuanya logis). 11 
Meski memberi nama “Tuhan” pada semesta ini, nama “Tuhan” yang di¬ 
maksud hanyalah versi lain dari Yang Absolut dalam fisika klasik, hanya 
saja disajikan dalam bentuk logika matematika. Seperti kritik metafisi- 
kus-biolog Raymond Ruyer, “Bentuk ateisme tersebut, yang menyajikan 


11 “ Deism : belief in the existence of a God on the evidence of reason and nature only, with 
rejection of supernatural revelation (distinguished from theism)”. ( Webster’s Unabridged 
Dictionary ) 


9 



Martin Suryajaya, dkk. 

dunia fisika klasik sebagai Absolut, tak lain adalah deisme yang buruk”. 12 

Meski demikian, kita dapat menggarisbawahi satu poin penting, bahwa 
ada seperangkat hukum logis yang imanen yang bekerja di alam ini—yang 
dengan perangkat yang hiper-kompleks itu Tuhan bekerja dan berparti¬ 
sipasi dalam penciptaan dunia-dunia. Namun, hukum logis itu niscaya 
bukan Tuhan itu sendiri. Hukum-hukum logis itu adalah inteligensi yang 
dengannya Tuhan bekerja, namun agar hukum logis itu beroperasi dan 
mampu mewujudkan sesuatu, ia membutuhkan intervensi, suatu tindak 
penciptaan terus-menerus ( creatio ) oleh Tuhan di dalam materi atau po- 
tensialitas materi. Di sini kita mungkin mengulang lagi apa yang sudah 
dikemukakan oleh Al-Ghazali dan Descartes: bahwa kausalitas, relasi, ser¬ 
ta berbagai hukum logis diderivasikan langsung dari agensi Tuhan, dan 
merupakan ciptaan yang sah dari Tuhan dan tidak terpisahkan dari aktus 
penciptaan-Nya. 

Sebenarnya, Martin Suryajaya dapat menarik manfaat dari metafisika Lei- 
bniz, asalkan dapat mengakui secara konsisten adanya Tuhan personal, 
yang bagi Leibniz justru sentral. Dia dapat menderivasikan pan-logisis- 
menya langsung dari eksistensi Tuhan yang Maha-Cerdas ini, sebagaima¬ 
na Leibniz, sehingga dengan demikian, pan-logisismenya justru memberi 
fondasi bagi konsepsi Tuhan personal yang juga didukung oleh teologi aga¬ 
ma-agama. Berbeda dari Martin, Leibniz mendasarkan paham ketuhanan¬ 
nya pada “kesempurnaan” dan kompleksitas hukum logis yang memberi 
dukungan bagi eksistensi Tuhan pada beragam level eksistensi. 13 


12 Raymond Ruyer, Neo-finalisme, Presentation & Preface par Fabrice Colonna, Paris: 
PUF, 2012 [1952], h. 282. 

13 Bdk. Leibniz, Discours de metaphysique , Paris: Flammarion, 2008, Proposisi XVI. Pro¬ 
posisi ini selengkapnya berbunyi: “Perlombaan Tuhan yang luar biasa termaktub di dalam 
apa yang diekspresikan oleh esensi kita. Sebab, ekspresi itu meluas mencakup semuan¬ 
ya, tetapi ia mengatasi daya-daya kodrat kita atau ekspresi kita yang ternyatakan jelas 
dan terbatas. Dari ekspresi ini maksim-maksim yang lebih rendah muncul mengikuti”. 
Yang dimaksud Leibniz dengan “esensi kita” adalah esensi rasional kita sebagai makhluk 
yang berpikir. Bisa juga “esensi kita” itu dipahami di sini sebagai hukum-hukum kodra- 
tiah yang melekat pada tubuh biologis kita yang bekerja dalam hubungan sebab-akibat, 
cerminan mikro dari hukum-hukum kodratiah Tuhan dalam skala yang lebih besar dan 
kosmik. 


10 



MARXISME DAN KETUHANAN YANG MAHA ESA 


Simpul dari perdebatan ini, secara metafisik, lalu berkutat pada eksis atau 
non-eksisnya Tuhan personal, Tuhan yang mempribadi, sebagaimana di¬ 
yakini oleh umat beragama. Para materialis menolak Tuhan personal dan 
melihat semesta sebagai materi swadaya yang mampu mengorganisasikan 
dirinya (melalui seleksi alamiah, DNA, meme, permutasi logis, dan lain- 
lain). Martin Suryajaya datang dengan pandangan baru: menolak Tuhan 
personal, karena Tuhan tak lain adalah semesta itu sendiri; sementara 
para teis mengafirmasi Tuhan personal dan melihat semesta sebagai ma¬ 
teri yang mengikuti rancangan Tuhan. Kira-kira apakah yang bermasalah 
dari konsep Tuhan personal ini bagi materialisme? Dan kalau masalah 
ini mampu terpecahkan, bisakah kita memikirkan suatu kemungkinan di 
mana konsep Tuhan yang personal memberi dukungan bagi materialisme? 
Kalau pertanyaan-pertanyaan ini mampu dijawab, kita akan dapat mene¬ 
mukan suatu formula teologi materialis yang secara inheren sinergis de¬ 
ngan teologi agama-agama, tidak indifferent (seperti materialisme deistik 
atau pseudo-teistik ala Martin Suryajaya), atau bahkan antagonistik (se¬ 
perti rata-rata para materialis ateis). 

Apa yang bermasalah dari konsep Tuhan personal bagi materialisme, 
mengacu pada argumen Martin Suryajaya, adalah bahwa ia mengandaikan 
posisi Tuhan yang imaterial dan transenden terhadap alam. Sementara, 
materialisme yang konsisten mesti mengandaikan semuanya terlembaga- 
kan di dalam struktur material semesta. Dengan kata lain, tidak mungkin 
terdapat dualisme antara imanen dan transenden. Tidak ada yang di luar, 
karena semuanya niscaya di dalam. Argumen ini dengan segera memperli¬ 
hatkan kelemahan internal, karena inkonsistensinya. 

Pertama, perkembangan evolusi logis, yang dihipotesiskan Martin sebagai 
mungkin terjadi ketika suatu saat nanti ditemukan logika modal terleng¬ 
kap yang pernah ada, mengandaikan pada ujungnya adanya “suatu ranah 
supra-material”. Karena keterbatasan ilmu logika yang ada sekarang, “ra¬ 
nah” ini sementara dapat baru dihipotesiskan; Tuhan baru hadir sebagai 
“postulat”. Secara terminologis, menunjuk adanya “ranah supra-mate¬ 
rial” itu tidak berbeda dengan menyebut adanya “substansi imaterial”. 
Supra-material: mengatasi yang material; dengan kata lain, transenden. 
Inkonsistensinya: argumen ini mengandaikan adanya suatu “ranah” yang 
mengatasi materialitas, namun argumen ini tidak mengakui imateriali- 


11 


Martin Suryajaya, dkk. 


tasnya. 

Kedua, penggunaan logika dialetheis ( dialetheism ) menempatkan Tuhan 
sebagai “himpunan kemungkinan dan ketakmungkinan”, yang mengata¬ 
si hukum Non-Kontradiksi dalam logika klasik Aristotelian. Pertanyaan 
sederhana: jika mungkin mempostulatkan Tuhan sebagai himpunan yang 
di dalamnya kontradiksi tidak bermasalah dan dapat diterima, mengapa 
“Tuhan” masih ditempatkan dalam oposisi antara luar/dalam, materialV 
imaterial, transenden/imanen ? Mengapa tidak menerima Tuhan sebagai 
memiliki dua-duanya sekaligus? Mengapa tidak mengakui saja bahwa Tu¬ 
han memiliki sifat “terlembagakan” secara material (baca: dalam aktus 
penciptaan), tetapi juga imaterial (pada Dzat-Nya)? Masih bergunakah 
dualisme antara ante rem (mengatasi materi) dan in re (pada materi)? De¬ 
ngan kata lain, Martin menggunakan logika dialetheis (logika kontradiksi) 
untuk menerima kemungkinan adanya Tuhan yang mengatasi kontradiksi 
(karena kontradiksi telah “tercakup” di dalam-Nya), namun menolak ke¬ 
mungkinan bahwa Tuhan itu imaterial (padahal imaterialitas-Nya meru¬ 
pakan kontradiksi yang tidak terpisahkan dari eksistensi-Nya). 

Argumen di atas, yang menolak Tuhan personal, justru memberi lan- 
dasan logis bahwa Tuhan personal (yang transenden, imaterial) itu mung¬ 
kin diterima, dan tidak bertentangan dengan materialisme. Tuhan yang 
transenden atas alam tidak bermasalah bagi materialisme, selama Tuhan 
itu diasumsikan berhubungan dengan alam dan menstruktur materialitas 
alam itu sendiri. Dengan kata lain, selama Dia terlibat dalam penciptaan 
dan produksi ( creatio et generatio), sebagai aktus material-Nya. Konsepsi 
ini justru merupakan inti dari teologi agama-agama; sebaliknya, ajaran 
tentang Tuhan yang sama sekali pasif dan terlepas dari alam justru me¬ 
rupakan deisme yang asing bagi teologi agama-agama. Tuhan, dengan de¬ 
mikian, bukan alam dan bagian hakiki dari alam ( ante rem), tetapi bekerja 
di dalam alam dan bersama alam (in re). 

Namun konsepsi ini dapat terbelah ke dalam dua jalur idealis dan mate¬ 
rialis. Konsepsi ini belum pada dirinya materialis. Jalur idealis akan me¬ 
nempatkan Tuhan sebagai aktor tunggal yang secara sewenang-wenang 
menggerakkan materialitas, tanpa memberi kesempatan sedikit pun bagi 
materialitas untuk bekerja dengan “aturan main”-nya yang materialis. Da- 


12 


MARXISME DAN KETUHANAN YANG MAHA ESA 


lam teologi skolastik Islam, konsepsi ini diajukan oleh Jabbariyah ( theolog- 
ical overdeterminism). Konsepsi ini idealis par excellence karena menafikan 
penciptaan sebagai cara alam diorganisasikan oleh Tuhan untuk bekerja 
dengan hukum-hukumnya yang imanen. Tidak ada penciptaan di sini, 
yang ada adalah paksaan absolut ( al-jabr ). Konsep idealis ini merupakan 
teologi yang disukai oleh kelas penindas dan pada dirinya anti-materialis. 

Di sisi lain, terdapat jalur materialis. Jalur materialis ini terbelah antara 
dua: materialis lunak dan materialis radikal. Materialis lunak akan meli¬ 
hat Tuhan bekerja di dalam alam secara tidak langsung melalui perang¬ 
kat-perangkat material yang dibutuhkan alam untuk menjamin kelangsun¬ 
gannya. Perangkat-perangkat itu memiliki berbagai nama: hukum alam 
(era Newton), sunnatullah (Al-Qur’an), evolusi (para biolog dan fisikawan 
Muslim sampai era Darwin), dan lain-lain. Perangkat-perangkat itu adalah 
semacam mesin program mahabesar yang dengannya Tuhan meng-install 
operasi alam dari tingkat kosmik hingga molekuler. Dilihat dari “atas”, 
perangkat-perangkat itu subordinat terhadap kecerdasan dan kehendak 
Tuhan. Dilihat dari “bawah”, perangkat-perangkat itu secara virtual bersi¬ 
fat otonom dan seakan-akan terlepas dari kekuasaan Tuhan. Kegandaan 
ini yang mengakibatkan seorang materialis lunak melihat intervensi Tu¬ 
han secara tak-kasat, justru di dalam materialitas yang kasatmata. Seorang 
materialis lunak juga melihat, betapapun terdapat partisipasi Tuhan di da¬ 
lam materialitas ini, Tuhan tidak pernah bekerja lepas sepenuhnya dari 
materialitas (walaupun Tuhan mampu melakukannya). 

Posisi ini beririsan dengan materialis radikal. Berbeda dari materialis lu¬ 
nak, materialis radikal memberi porsi besar pada kapasitas materialitas 
untuk bekerja, tanpa mengasumsikan keterlibatan secara terus-menerus 
Tuhan di baliknya (meskipun kenyataannya Tuhan terus bekerja). Materi¬ 
alitas itu didorong hingga kemampuannya yang ekstrem untuk mengatasi 
persoalan-persoalannya, sekali lagi tanpa campur-tangan Tuhan. Ketika 
kemampuan materialitas itu mencapai titik klimaksnya, dan materialitas 
itu tidak mampu mengatasi titik klimaks tersebut dengan dayanya sendi¬ 
ri, maka di saat itulah Tuhan “dipanggil”, dilibatkan untuk menginterven¬ 
si. Tuhan, dengan demikian, dihadirkan (walaupun kenyataannya selalu 
hadir) dalam momen-momen genting dan kritis, dan dilibatkan dalam 
gerak-nadi sejarah, justru ketika materialitas sejarah tidak lagi mampu 


13 


Martin Suryajaya, dkk. 


mengatasi persoalan dirinya. Tuhan hadir sebagai pemungkin lompatan 
dialektis, ketika materialitas harus mengatasi dirinya dan naik ke tahapan 
baru. Inilah yang disebut dengan transendensi. 

Posisi ini dirumuskan oleh Muhammad Ridha dengan “Tuhan sebagai ek¬ 
sepsi”. Tuhan hadir sebagai perkecualian yang hadir di saat-saat genting, 
di titik-titik pecahnya revolusi. Untuk itu, Tuhan ini, pada situasi normal, 
hanya bisa diasumsikan sebagai “kekosongan”, sebagai objek yang dihasra¬ 
ti (ohjetpetit a), karena persis Dia hanya bisa dihadirkan pada situasi kritis 
ketika “kekosongan” itu mesti mewujud di dunia, di dalam gerak sejarah. 
Dari arah lain, tetapi relatif di dalam posisi serupa, Hizkia Yosie menunjuk 
potensi untuk menghadirkan Tuhan itu telah berada di dalam materialitas 
itu sendiri. Tuhan tidak di mana-mana, tidak datang dari dunia supranat¬ 
ural atau dari luar sejarah, tetapi telah berada di dalam sejarah, di dalam 
materialitas kesejarahan itu sendiri. Dalam posisi materialis radikal ini, 
Tuhan dipanggil masuk hingga ke titik yang paling konkret dari materi¬ 
alitas, bahkan dalam wujud darah dan daging. Tuhan mewajah, mendarah 
dan mendaging. Karena itu, rujukan Hizkia Yosie adalah figur Yesus yang 
historis, dan persis di titik ini posisi materialis radikal memberi landasan 
filosofis yang segar bagi teologi pembebasan. 

Posisi materialis radikal dapat mencapai titik-titik temu yang tak terduga 
dengan teologi agama-agama yang membebaskan, persis karena ia mene¬ 
rima postulat tentang Tuhan personal yang mampu in extremis mewujud 
di dalam sejarah. Posisi materialis radikal ini mengafirmasi agensi Tuhan 
secara langsung sebagai sesuatu yang mewujud bersama dengan agensi 
subjek historis (kelas tertindas). Kesulitan yang justru tidak mampu dipe¬ 
cahkan secara memuaskan oleh Martin Suryajaya karena keterperangka- 
pannya dalam konsepsi Tuhan yang intelektualistik, logisis, dan melangit. 
Ketegangan antara konsepsi ketuhanan yang melangit dan membumi 
akan tetap menjadi medan perdebatan yang tak selesai bagi Marxisme, 
sejauh kita para Marxis mau terus terlibat dalam perkembangan-perkem¬ 
bangan kontemporer dinamika umat beragama.*** 

Muhammad Al-Fayyadl adalah Koordinator umum Front Nahdliyin un¬ 
tuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA), alumnus Pondok Pesan¬ 
tren Annuqayah Sumenep Madura, dan editor Islam Bergerak. 


14 


I 


Maraisme dan Ketuhanan Yang Maha Esa 

Martin Suryajaya 

PADA kesempatan ini, kita akan berteologi. Kita akan membangun suatu 
model teologi yang secara inheren berciri Marxis. Dan apa yang saya mak¬ 
sudkan bukanlah semacam perumusan ulang atas ‘teologi pembebasan’ 
para pastor revolusioner dari Amerika Latin. Kita perlu menaruh hormat 
pada mereka, tetapi sayang sekali kita tidak akan membahasnya di sini. 
Teologi pembebasan, kendati memiliki kegunaan emansipatoris (berguna, 
misalnya, sebagai sarana mobilisasi massa Kristiani demi tujuan-tujuan 
emansipasi revolusioner), tetaplah pada hitungan terakhir merupakan 
teologi dalam pengertiannya yang eksternal terhadap Marxisme, yakni 
teologi sebagaimana lazimnya yang melibatkan akhirat, dosa dan sega¬ 
la macam kredo biblikal terhadap yang transenden. Apa yang ingin saya 
upayakan di sini, sebaliknya, adalah membidani suatu teologi yang dilahir¬ 
kan dari dalam rahim Marxisme sendiri—dibuahi oleh materialisme histo¬ 
ris, dikandung oleh materialisme dialektis. 

Orang yang skeptis akan segera memotong: untuk apa kaum Marxis ber¬ 
teologi? Bukankah bagi Marx agama itu candu? Bagaimana mungkin ma¬ 
terialisme historis dan materialisme dialektis mengakomodasi teologi? 
Segala pertanyaan skeptis tentang teologi Marxis dapat dipilah menjadi 
dua jenis: pertama, berkaitan dengan konsistensinya terhadap pemikiran 
Marx yang ‘ateistik’ dan ilmiah; kedua, berkenaan dengan kegunaannya 
bagi praxis emansipasi. Kita akan mengupasnya mulai dari yang pertama. 

Penerimaan atas Marxisme tidak mensyaratkan penolakan total atas a- 
gama. Artinya, Marxisme tidak mengharuskan kita untuk menganut ate- 
isme. Apa yang ditolaknya adalah konsepsi tertentu tentang Tuhan, yak¬ 
ni konsepsi realis ante rem tentangnya. Realisme ante rem tentang Tuhan 
merupakan pengakuan atas keberadaan substansi imaterial yang terpisah 
atau transenden dari alam semesta sebagai substansi material. Pandangan 
macam itu menuntut kita menganut dualisme substansi (mengakui ada- 


Martin Suryajaya, dkk. 


nya substansi material dan imaterial) yang sukar direkonsiliasikan dengan 
semangat ilmiah dari Marxisme. Sebabnya, semangat ilmiah sains mo¬ 
dern yang menjadi dasar Marxisme, berpegang pada konsepsi realisme in 
re, yakni pengertian bahwa segala yang imaterial hanya mungkin terlem- 
bagakan sebagai sifat (property ) dari substansi material. Oleh karenanya, 
pengertian ante rem (transenden) tentang Tuhan, yang lazimnya terdapat 
dalam agama-agama wahyu, tidak konsisten dengan Marxisme. Namun 
pengertian semacam itu bukanlah satu-satunya pengertian yang bisa di¬ 
rekonsiliasikan dengan ajaran agama-agama wahyu. Kita bisa juga meng¬ 
anut agama-agama wahyu sembari menjadi Marxis dengan cara bersikap 
fiksionalis terhadap keberadaan Tuhan. Fiksionalisme dalam arti ini adalah 
pandangan bahwa Tuhan, sebagai substansi immaterial, ada sejauh dinya¬ 
takan demikian dalam narasi religius tertentu, dan tidak ada di luarnya. 
Artinya, Tuhan ada sebagai entitas kultural, yakni objek yang dinyatakan 
keberadaannya oleh konvensi sosio-kultural tertentu, atau sebagai entitas 
mental, sebagai objek kepercayaan. Ini adalah semacam ateisme yang lunak: 
suatu sikap ateistik yang diplomatis. 

Namun persoalannya, menganut fiksionalisme semacam itu berarti 
memangkas sejumlah besar ciri emansipatoris agama yang sebetulnya ber¬ 
guna bagi Marxisme. Realisme ante rem tentang dunia akhirat (surga-ner- 
aka), misalnya, merupakan kritik tak langsung atas kontradiksi dunia ak¬ 
tual. Apabila baik orang yang bersikap eksploitatif semasa hidupnya di du¬ 
nia ini maupun orang yang tertindas sama-sama tak memiliki kehidupan 
setelah kematian - tidak mendapat ganjaran atau balasan atas perbuatan 
selama hidupnya - maka tentu semua orang akan memilih untuk bersikap 
eksploitatif. Distingsi teologis tentang surga-neraka, karenanya, merupa¬ 
kan kritik atas pembagian sosial antara kaum tertindas dan penindas da¬ 
lam dunia aktual. Makanya, realisme ante rem tentang Tuhan mengandung 
aspirasi emansipatoris yang berharga. Semangat itu tidak tergantikan apa¬ 
bila kita menganut fiksionalisme. Sebabnya, dengan bersikap fiksionalis, 
dunia akhirat hanya ada dalam fiksi religius yang bebas mau dipercayai 
atau tidak sesuai kepentingan pragmatis kita di dunia. Artinya, dilihat dari 
kegunaannya bagi praxis emansipasi Marxian, realisme ante rem lebih ber¬ 
guna ketimbang fiksionalisme, sebab realisme semacam itu menunjukkan 
bahwa dunia lain itu mungkin ( another world is possible ) dan bahwa dunia 
aktual ini mengandung kontradiksi. 


16 


MARXISME DAN KETUHANAN YANG MAHA ESA 


Pertanyaannya kemudian: mungkinkah kita merakit suatu model ketu¬ 
hanan yang selaras dengan semangat ilmiah Marxisme, tetapi sekaligus 
juga menyimpan muatan emansipatoris? Saya rasa kunci jawabannya ada 
pada upaya merumuskan bidang abu-abu yang terletak di antara realisme 
ante rem dan fiksionalisme. Apa yang tidak kita butuhkan dari realisme 
ante rem adalah gagasan tentang substansi imaterial yang transenden, dan 
apa yang tidak kita perlukan dari fiksionalisme adalah gagasan bahwa du¬ 
nia lain yang mungkin hanyalah fiksi yang diyakini tergantung keperluan. 
Solusinya terletak pada realisme in re yang menjadi ciri dasar Marxisme itu 
sendiri. Ada dua pertanyaan utama yang mesti dijawab oleh solusi terse¬ 
but: 

1. Mungkinkah kita merancang suatu teologi materialis? 

2. Apakah teologi tersebut berciri emansipatoris? 

Saya akan berpendapat bahwa kedua pertanyaan tersebut dapat dijawab 
secara afirmatif. Paparan berikut akan menjawab kedua pertanyaan di 
muka. 

Di manakah tempat bagi Tuhan dalam materialisme, dalam konsepsi ten¬ 
tang kenyataan dimana segala yang ada hanya mungkin ada sebagai sub¬ 
stansi material atau sebagai sifat-sifat imaterial yang terlembagakan pada 
substansi material? Dalam kenyataan seperti itu, segalanya terhubung se¬ 
cara kausal. Adanya manusia disebabkan oleh komposisi kimiawi planet 
Bumi. Adanya planet Bumi disebabkan oleh distribusi partikel pasca-Bzg 
Bang. Dalam konsepsi materialis, semesta fisik ini ‘abadi:’ ia bermula 
dari ledakan besar, berakhir pada penyusutan (Big Crunch) yang memicu 
ledakan besar yang baru. Apa yang kita sebut waktu hanyalah fungsi dari 
sifat-sifat semesta fisik itu. Waktu bermula dari ledakan besar, berakhir 
pada penyusutan, dan bermula kembali pada ledakan besar yang baru. 
Ruang dan waktu hanyalah fungsi dari distribusi materi dan sifat-sifat¬ 
nya. Semesta fisik ini tak terhingga, dalam arti yang serupa dengan suk¬ 
sesi bilangan tak hingga dalam model himpunan Georg Cantor. Lantas di 
manakah letak Tuhan di hadapan ketakhinggaan semesta fisik ini? 

Saya berpendapat bahwa seorang materialis dapat mempercayai Tuhan 
sebagai totalitas kemungkinan dan ketakmungkinan distribusi sifat dalam 


17 


Martin Suryajaya, dkk. 


semesta fisik. Apabila Leibniz berpendapat bahwa Tuhan menciptakan 
alam semesta kita sebagai semesta yang terbaik dari segala semesta yang 
mungkin, saya berpendapat bahwa Tuhan tidak lain daripada keseluruhan 
kemungkinan dan ketakmungkinan semesta itu sendiri. Tuhan adalah kese¬ 
luruhan dunia yang mungkin dan tak mungkin. Namun apa artinya ‘dun¬ 
ia-dunia yang mungkin’ (possihle worlds ) dan ‘dunia-dunia yang tak mung¬ 
kin’ ( impossihle worlds )? Dunia yang mungkin adalah, misalnya, dunia 
dimana Revolusi Industri tidak terjadi, planet Bumi tak pernah ada, atau 
gajah bisa terbang. Dunia yang tak mungkin adalah, misalnya, dunia dima¬ 
na 2 + 2 = 15, atau dunia dimana proposisi ‘A = B’ adalah benar sekaligus sa¬ 
lah. Apabila kita membayangkan himpunan yang beranggotakan seluruh 
dunia semacam itu, maka himpunan itulah yang saya sebut sebagai Tuhan. 

Dengan demikian, bagi seorang materialis, letak Tuhan adalah pada ruang 
logis (logical space). Ini adalah ruang yang diakses oleh logika. Aparatus 
logika dapat membahasakan seluruh dunia yang mungkin dan tidak mung¬ 
kin (misalnya melalui logika dialetheis/dialektis dan nilai-jamak). Benar 
bahwa metode komputasi logika yang kita miliki saat ini (metode tabel ke¬ 
benaran atau pohon logika) masih sangat terbatas dan tak mampu meng- 
kalkulasi benar/salahnya seluruh proposisi tentang semua dunia yang mung¬ 
kin dan tak mungkin. Namun ini adalah masalah teknis yang berkait soal 
kemajuan teknologi dan tidak secara a priori menutup kemungkinan bagi 
komputasi logis tersebut. Dalam arti ini, kita dapat membayangkan Tuhan 
secara materialis sebagai suatu super-komputer yang mampu menghitung 
semua permutasi logis dari proposisi yang mungkin dan tak mungkin. 

Walaupun totalitas kemungkinan dan ketakmungkinan itu belum mung¬ 
kin kita daftar satu per satu, setidaknya kita bisa membuat semacam 
pemetaan atas jenis-jenis ruang logis tersebut. Kita dapat membuat tak¬ 
sonominya sebagai berikut: 

1. Dalam bentuknya yang paling luas, terdapat Tuhan sebagai himpunan 
kemungkinan dan ketakmungkinan. Ini dapat dinyatakan lewat logika 
dialetheis/dialektis dan nilai-jamak. Sebut saja himpunan ini sebagai 
dunia T. 

2. Sebagai bagian dari T, terdapat himpunan kemungkinan logis: him- 


18 


MARXISME DAN KETUHANAN YANG MAHA ESA 


punan semua yang mungkin dipikirkan secara logis dan tidak berla¬ 
wanan dengan logika Klasik (dengan asas non-kontradiksi dan penge¬ 
cualian nilai-tengah). Sebut saja himpunan ini sebagai dunia K. 

3. Sebagai bagian dari K, terdapat himpunan kemungkinan fisik: him¬ 
punan semua yang mungkin terjadi dalam alam semesta fisik dan 
tidak berlawanan dengan hukum-hukum alamnya. Sebut saja him¬ 
punan ini sebagai dunia F. 

4. Sebagai bagian dari F, terdapat himpunan dunia aktual: himpunan 
kenyataan yang merupakan dunia aktual yang kita hidupi sekarang. 
Sebut saja himpunan ini sebagai dunia A. 

5. Empat jenis dunia ini tersusun secara hierarkis. Semua anggota A me¬ 
rupakan anggota F, semua anggota F ialah anggota K, dan semua ang¬ 
gota K adalah anggota T. Dalam rumusan teori himpunan, hubungan 
hierarkis antar tipe dunia ini dapat dirumuskan melalui stratifikasi ba¬ 
gian ( subset ) seperti berikut: 

ACFCKCT 

Ilustrasi yang lebih gamblang dari stratifikasi ini dapat digambarkan me¬ 
lalui diagram berikut ini. 



19 


Martin Suryajaya, dkk. 


Melalui diagram tersebut, terlihat bahwa dunia aktual yang kita hidupi 
sekarang, katakanlah A 1 , bukanlah satu-satunya dunia aktual yang mung¬ 
kin, apabila dibandingkan baik dengan dunia-dunia aktual lain, dengan 
dunia-dunia fisik lain, maupun dunia-dunia logis lain. A 1 adalah dunia 
kita sekarang dimana kapitalisme merajalela dan nampak niscaya. Tetapi 
itu bukan satu-satunya dunia aktual yang mungkin berdasarkan kondisi 
fisik F 1 —katakanlah kondisi fisik dimana ada planet Bumi dan hal-hal 
yang diperlukan bagi adanya manusia. Terdapat dunia A 2 , misalnya, dima¬ 
na kapitalisme sudah tumbang di awal abad ke-21, digantikan dengan so¬ 
sialisme. Oleh karena A 2 mungkin, maka kapitalisme tidak niscaya dalam 
F 1 —ia tidak bersifat kodrati, melainkan kontinjen. Konsekuensinya, per¬ 
juangan melawan kapitalisme atas nama sosialisme dan komunisme di A 1 , 
bukanlah perjuangan yang sia-sia atau niscaya gagal. Singkatnya, melalui 
diagram yang menggambarkan hubungan stratifikasi bagian tersebut, kita 
tahu secara logis bahwa another world is possihle. Hal ini kita capai tanpa 
mempostulatkan keberadaan surga/neraka yang transenden. Apa yang 
kita perlukan hanya konsepsi tentang Tuhan sebagai totalitas kemung¬ 
kinan dan ketakmungkinan yang dapat disusun secara taksonomis melalui 
logika. Dengan memungkinkan pengertian tentang dunia alternatif, mod¬ 
el ketuhanan seperti ini jelas berciri emansipatoris dan karenanya berguna 
bagi praxis emansipasi Marcdan. 

Pada puncaknya, teologi materialis dimungkinkan sebagai logika. Teologi, 
dalam arti ini, adalah logika tentang kemungkinan dan ketakmungkinan 
(modal logic). Tetapi tidakkah ini mengharuskan kita mempostulatkan 
ruang logis sebagai suatu ranah supra-material? Diskursus materialis per 
se hanya mengizinkan pembicaraan pada taraf A dan F, tidak sampai K dan 
T. Jika begitu, mengapa model ketuhanan di muka, yang jelas mencakup K 
dan T, saya sebut berciri materialis? Hal itu berciri materialis sebab mem¬ 
postulatkan ranah K dan T tidak berlawanan dengan materialisme. Klaim 
dasar materialisme mengatakan bahwa semua sifat, sejauh terlemhagakan, 
mestilah terlemhagakan dalam semesta fisik. Ada dua hal yang ditolaknya: 
(1) bahwa ada substansi imaterial; (2) bahwa ada pelembagaan sifat di luar 
semesta fisik. Jadi materialisme tidak menolak keberadaan sifat-sifat yang 
tak terlemhagakan itu sendiri. Sifat-sifat yang tak terlemhagakan itu bisa 
ada sebagai entitas abstrak yang keberadaannya dipostulatkan melalui re¬ 
konstruksi logis (secara abduktif) atas sifat-sifat yang terlemhagakan. Tu- 


20 


MARXISME DAN KETUHANAN YANG MAHA ESA 


han adalah ujung dari rekonstruksi tersebut. Karenanya, penerimaan atas 
Marcdsme yang materialistik tidak meniscayakan penolakan atas Tuhan. 
Hanya konsepsi realisme ante rem tentangnya yang perlu ditolak, sembari 
menyelamatkan konsepsi realisme in re yang baru saja dipaparkan. 

Melalui teologi materialis alias logika ini, nampak juga bagaimana mate¬ 
rialisme historis dapat dijangkarkan. Proposisi bahwa basis material me¬ 
ngondisikan suprastruktur kultural, dapat dijustifikasi berdasarkan fakta 
bahwa dunia fisik yang mungkin yang terlembagakan sebagai dunia kita 
adalah dunia F 1 . Dalam F 1 , terdapat distribusi partikel yang sedemikian 
rupa, sehingga modus realisasi kehidupan bertopang pada modus ke¬ 
beradaan material. Karena F 1 adalah konteks dari dunia aktual kita, dunia 
A 1 , maka materialisme historis menjadi benar dalam A 1 . Dengan kata lain, 
materialisme historis benar karena itu merupakan keniscayaan fisik dari 
dunia F 1 . Materialisme historis tidak benar dalam F A4 , di suatu semesta 
fisik dimana planet Bumi tak pernah ada. Hal ini tidak menjadi masalah 
sebab kita tahu bahwa kita tak hidup di dalam kondisi seperti yang dinya¬ 
takan dalam F A 4. Apa yang disyaratkan oleh Marxisme hanyalah bahwa 
materialisme historis benar dalam kondisi semesta fisik yang relevan. 

Kita sudah menjawab dua pertanyaan utama kita. Teologi materialis di¬ 
mungkinkan sebagai logika dan hal ini berguna bagi praxis emansipasi 
Marcdan karena memberikan justifikasi logis bagi emansipasi. Orang yang 
belum puas akan solusi rekonsiliasi Marxisme dan Tuhan ini dapat berta¬ 
nya: lalu di manakah letak iman dalam teologi materialis ini? Bukankah 
sikap religius dicirikan oleh keimanan atas sesuatu yang tak sepenuhnya 
diketahui secara kognitif? Tidakkah dengan menjatuhkan teologi pada 
logika, kita justru membuang aspek yang krusial dari sikap religius? 

Menurut hemat saya, dalam teologi materialis macam ini, iman tetap di¬ 
mungkinkan. Saya akan kembali pada pengertian Plato tentang pengeta¬ 
huan: apa yang disebut pengetahuan adalah keyakinan yang terjustifika- 
si dan benar (justified true belief). Dari situ bisa dilihat bahwa iman atau 
keyakinan adalah sebagian dari pengetahuan. Beriman adalah sikap dari 
orang yang belum sepenuhnya tahu. Kalau ini yang dimaksud dengan ber¬ 
iman, maka logikawan paling handal saat ini pun pasti beriman. Sebab, 
seperti telah ditunjukkan, kendati logika dapat memetakan secara garis 


21 


Martin Suryajaya, dkk. 

besar taksonomi ketuhanan (taksonomi kemungkinan dan ketakmung- 
kinan), tetapi metode kalkulasi atas semua proposisi yang menyatakan ke¬ 
mungkinan dan ketakmungkinan itu sampai hari ini masih amat jauh dari 
sempurna. Dengan menggunakan metode tabel kebenaran, misalnya, kita 
memerlukan 2 A n baris untuk menghitung benar/salahnya sebuah pro¬ 
posisi dengan n peubah. Kemampuan komputer modern mampu meng¬ 
hitung satu juta baris per detik. Apabila n itu berjumlah 80, maka kita 
memerlukan waktu 2 A80 mikrodetik (1 mikrodetik = 1/1000000 detik) 
untuk menghasilkan tabel kebenaran yang lengkap yang dapat menguji 
semua permutasi benar/salahnya setiap peubah dalam proposisi tersebut. 
Sayangnya, 2 A8 ° mikrodetik itu ekuivalen dengan 38 milyar tahun, yakni 
lebih dari dua kali lipat usia alam semesta kita sekarang (sekitar 15 milyar 
tahun). Problem ini dikenal dalam khazanah ilmu komputer teoretis se¬ 
bagai problem ‘P versus NP’ (lih. Enderton, A Mathematical Introduction to 
Logic, h. 26). Karena kita tak sepenuhnya tahu metode penghitungan logis 
yang efisien dan akurat, maka kita beriman pada totalitas yang mungkin 
dan tak mungkin dalam ruang logis. Karena iman adalah awal-mula pe¬ 
ngetahuan, maka dengan mencari tahu lebih, dengan membangun sains 
yang lebih akurat, kita mewujudkan iman kita dalam tindakan. 

Maka inilah kredo iman materialis: 

‘Aku percaya akan Tuhan, himpunan dunia yang mungkin 
dan tak mungkin; yang ditemukan secara logis dari rekon¬ 
struksi atas sifat semesta fisik; yang hanya dapat disembah 
dengan cara dipikirkan dan diketahui; yang mewujud-nyata 
sebagai hukum fisika dan tampil sebagai tendensi gerak seja¬ 
rah sosial yang disebut materialisme historis: kebertopangan 
yang-mental pada yang-material. Amin.’*** 

16 Desember 2013 

Catatan redaksi: A = pangkat. 

Artikel ini pertama kali muncul di laman IndoPROGRESS, 18 Desember 2013: 

http://indoprogress.com/2013/12/marxisme-dan-ketuhanan-yang-maha- 

esa/ 


22 


II 


Tuhan Sebagai Eksepsi: Perihal Teologi 
Materialis 

Muhammad Ridha 

Tanggapan Untuk Martin Suryajaya 

HARUS diakui bahwa Martin Suryajaya dalam artikel mengenai Marxisme 
dan Ketuhanan Yang Maha Esa, telah melakukan terobosan penting dalam 
diskursus pengetahuan Marxian di Indonesia. Setelah sekian lama masya¬ 
rakat disuguhkan dengan argumentasi bahwa Marxisme pada dasarnya 
selalu anti ketuhanan, Martin menunjukkan bahwa materialisme (yang 
menjadi inti filsafat Marxisme) dapat menerima ide tentang Tuhan. Teta¬ 
pi, berbeda dengan presentasi teologi sebelumnya yang hendak mendekat¬ 
kan wahyu dengan materialisme (yang kemudian membuat penjelasann¬ 
ya lebih berupa upaya mencocok-padankan antara ayat dengan proposi- 
si-proposisi materialis), proyeksi Martin kali ini dapat dikatakan baru di 
Indonesia, karena yang hendak dibangun adalah bagaimana Tuhan dapat 
dipahami secara konsisten sepenuhnya dalam logika materialis. Sebuah 
upaya yang sangat berharga, tentu saja, dalam rangka untuk mengatasi ke¬ 
senjangan pengetahuan sekaligus dialog kritis antara kalangan yang ber¬ 
ketuhanan dengan kalangan Marxis yang memiliki komitmen sama untuk 
pembebasan rakyat pekerja. 

Melalui proposisi teori himpunan Cantor, Tuhan dalam argumen logis 
Martin adalah entitas yang mampu menghitung permutasi logis dari pro¬ 
posisi mungkin dan tak mungkin, layaknya komputer. Martin berpen¬ 
dapat, keberadaan Tuhan dapat diterima sejauh ide mengenai-Nya tidak 
bertentangan dengan hukum fisik yang berlaku. Dalam Tuhan, semenjak 
dalam diri-Nya termaktub yang mungkin dan tak mungkin, semesta ak¬ 
tual bukan satu-satunya semesta yang mungkin. Terdapat dunia lain yang 
mungkin ( another world is possible ) dalam Tuhan. Yang diperlukan kemu¬ 
dian adalah konstruksi logis untuk menjangkarkan Tuhan dalam keter- 
lembagaan fisiknya. 


Martin Suryajaya, dkk. 


Akan tetapi, tawaran Martin kali ini dapat dikatakan problematis. Ada 
dua alasan mengapa hal tersebut terjadi. Yang pertama, tawaran teologi 
materialis Martin masih sebatas iman agnostik, dimana Tuhan diakui ke¬ 
beradaannya namun tidak lebih sebagai entitas yang impoten. Tuhan ada 
di luar sana namun tidak melulu harus diimani. Martin mungkin berargu¬ 
men bahwa iman, layaknya iman kepada Tuhan, adalah fungsional dalam 
pembangunan sains. Tapi dalam jangka panjang, ketika pengetahuan su¬ 
dah lengkap, maka iman terhadap Tuhan tidak lagi menjadi relevan. Da¬ 
lam hal inilah ada yang paradoks dari posisi teologi materialis Martin. Se¬ 
menjak iman (terhadap Tuhan) adalah sesuatu yang mubazir ( redundant ), 
maka keberadaan Tuhan itu sendiri adalah mubazir bagi konstruksi logika 
teologinya. 

Problem kedua, yang merupakan turunan dari problem pertama mengenai 
iman agnostik adalah pembuktian keberadaan Tuhan secara logis, tidak 
secara otomatis membuat Tuhan menjadi ada. Apa yang hendak saya ar- 
gumentasikan di sini, adanya dimensi ‘kebenaran’ dari ide tentang Tuhan 
itu sendiri. Dalam arti ide mengenai Tuhan mampu untuk memobilisasi 
manusia untuk berprilaku atas nama-Nya. Sebagaimana telah dibuktikan 
oleh sejarah, Tuhan menjadi ‘ada’ justru semenjak keimanan manusia 
atas Tuhan mengorganisasikan kepentingannya dalam terang ide Tuhan 
itu sendiri (Armstrong 1993). Disinilah Tuhan menjadi isu bagi manusia, 
semenjak Ia adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah itu sendiri. Meng¬ 
abaikan dimensi ini, tentu saja, membuat kita tidak bertindak ‘objektif’ 
terhadap ide tentang Tuhan yang menjadi problem artikel Martin. 

Keterbatasan tawaran teologi Martin bukan berarti tidak dapat diatasi. In¬ 
tensi untuk mengadakan dialog antara materialisme dengan ide ketuhan¬ 
an masih dapat dilakukan. Alih-alih mengikuti trajektori yang ditawarkan 
Martin, yakni mengontruksikan materialisme yang memberikan ruang 
bagi Tuhan, yang diperlukan justru pembacaan imanen dimana struktur 
logika materialisme menubuh dalam logika Tuhan dalam agama. Dengan 
kata lain, struktur logika agama itu sendiri harus dilihat sebagai logika ma¬ 
terialisme. Dalam hal inilah kita bisa mengatasi keterbatasan yang ada. 


24 


MARXISME DAN KETUHANAN YANG MAHA ESA 


Di antara Dua Tuhan, atau Meninjau Kembali ‘Tiada Tuhan 
Selain Tuhan’ 

Hal pertama yang harus diklarifikasi tentu saja adalah perihal Tuhan da¬ 
lam teologi materialis. Bagaimana ide mengenai Tuhan dapat diinterogasi 
dalam kerangka materialisme? Dalam hal ini tinjauan Cak Nur (Nurchol- 
ish Majid) mengenai kredo ‘tiada tuhan selain Tuhan’ dapat dibuka kem¬ 
bali. Problem Cak Nur yang utama perihal kredo ini adalah bagaimana 
menjawab mengenai keesaan tuhan. Bagi Cak Nur, masalah yang harus di¬ 
jawab bukan perkara ketidakpercayaan, tetapi mengenai politeisme; yang 
membuat manusia dihadapi pilihan akan banyak tuhan yang membuat¬ 
nya mudah untuk terjerembab dalam momen salah-pilih tuhan. Dengan 
sedikit menggunakan gestur ala eksistensialis, pembacaan ulang kredo 
‘tiada tuhan selain Tuhan’ adalah sebentuk deklarasi bahwa Tuhan adalah 
entitas tunggal yang berada di luar konfigurasi ‘tuhan-tuhan’ ala politeis 
yang melingkupi nalar praktis. Dengan kata lain, yang ada adalah Tuhan 
yang maha esa (tauhid), yang di luar itu tidak dapat dikategorikan sebagai 
tuhan. 

Tinjauan Cak Nur ini tentu saja masih memiliki masalah, karena masih 
terdapat bias idealis mengenai sifat dasar Tuhan dimana asumsi Tuhan 
diasumsikan tanpa ada tautan material. Akan tetapi terdapat kebenaran 
dari logika yang ditawarkan oleh Cak Nur. Bahwa Tuhan pada dasarnya 
adalah eksepsi dari yang-ada ( heing ), yang direpresentasikan oleh tu¬ 
han-tuhan. Lalu bagaimana materialisme menjelaskan eksepsi dalam rea¬ 
litas itu sendiri? 

Dalam hal ini fisika kuantum dapat membantu. Engels dalam karyanya 
Ludwig Feurbach and the Outcome of Classical German Philosophy berujar 
bahwa dengan tiap penemuan bersejarah pada ranah ilmu alam, material¬ 
isme harus mengubah bentuknya. Dalam perkembangan sains terkini, fisi¬ 
ka kuantum adalah tantangan (sekaligus sebagai ‘ruang logis’ dalam istilah 
Martin) krusial dalam mendefinisikan materialisme. Agar tidak terjebak 
dalam interpretasi idealis mengenai fisika kuantum, ada dua hal penting 
yang harus diperhatikan mengenai fisika kuantum: 

1. Proposisi fisika kuantum hanya dapat berfungsi dalam aparatus kom- 


25 


Martin Suryajaya, dkk. 
pleks formalisasi matematika; 

2. Semesta kuantum bukan sekedar matematika dalam arti sekedar 
pengembangan imanen atas konsekuensi aksioma yang ada, namun, lebih 
daripada itu, terdapat pula proses ilmiah dimana pengukuran serta pem¬ 
buktian harus dilakukan. 

Masalah utama dari fisika kuantum adalah ia tidak dapat didefinisikan, 
yang oleh karenanya fisika kuantum hanya dapat ditunjukkan (McEvoy 
and Zarate 1999, 174). Demi kemudahan argumen di sini, salah satu 
presentasi populer mengenai fisika kuantum adalah apa yang dikenal se¬ 
bagai problem dualitas partikel/gelombang pada cahaya. Problem ini pada 
mulanya muncul sebagai bagian dari upaya menjawab masalah elektron 
dalam atom-atom dengan cahaya sebagai media pengamatannya. Dalam 
fisika klasik, setidaknya terdapat dua posisi pengetahuan yang saling ber¬ 
tolak belakang dalam memahami karakter cahaya. Bagi Newton, cahaya 
terdiri dari partikel, sementara bagi fisikawan Belanda, Christian Huy- 
gens, cahaya terdiri dari gelombang. Pada tahun 1886, teori gelombang 
elektromagnetik Maxwell menyelesaikan perdebatan fisika klasik dengan 
menyatakan bahwa cahaya terdiri dari gelombang. Namun, sayangnya, 
pada awal abad 20, teori Maxwell menghadapi tentangan. Adalah Einstein 
yang memperkenalkan metode corpusdes untuk menjelaskan efek fotoel- 
ektrik. 1 Metode ini mengindikasikan adanya dualitas dari cahaya, dimana 
terjadi fusi antara partikel dan gelombang. Argumen Einstein ini dibenar¬ 
kan fisikawan Perancis de Broglie, yang menunjukkan pada tesisnya bahwa 
sebuah gelombang pada cahaya dapat diasosiasikan dengan gerak sebuah 
partikel tertentu. 

Dualitas gelombang/partikel ini membawa masalah sendiri bagi upaya kita 
dalam memahami realitas (dan juga mengenai materialisme). Sebagai con¬ 
toh, dalam nalar praktis kita (common sense), secara berkebalikan, partikel 
lebih didahulukan daripada gelombang. Sebagai contoh, di suatu gurun, 


1 Efek fotoelektrik adalah salah satu problem dalam fisika kuantum dimana argumen 
fisika klasik bahwa semakin kuat (atau semakin terang) cahaya, akan semakin besar e- 
nergi yang dihantarkan kepada elektron. Efek fotoelektrik justru menunjukan bahwa e- 
nergi elektron sepenuhnya independen dari intensitas cahaya (McEvoy and Zarate 1999, 
44-46). 


26 



MARXISME DAN KETUHANAN YANG MAHA ESA 


pasir bergerak karena angin yang berfungsi seperti gelombang. Dalam hal 
ini, melalui nalar praktis, kita dapat menyimpulkan bahwa perilaku gelom¬ 
bang dapat direduksi sebagai partikel; bahwa gerak gelombang pastilah 
gerak atas sesuatu, sesuatu yang secara material ada dan bergerak. Di sini 
dapat dinyatakan pula bahwa gelombang pada dasarnya tidak ada karena 
ia hanya sekedar properti atau peristiwa yang terjadi karena sesuatu yang 
ada. Revolusi fisika kuantum berupaya untuk membalik nalar praktis se¬ 
perti itu. Tidak hanya terdapat ketidakterpisahan dualitas antara gelom¬ 
bang dan partikel; dalam dualitas ini, fisika kuantum memprioritaskan 
gelombang: sebagai contoh, fisika kuantum mengajukan peralihan dari 
memahami gelombang sebagai interaksi antara partikel ke pemahaman 
mengenai partikel sebagai titik pusat dalam interaksi gelombang. Bagi fisi¬ 
ka kuantum, gelombang tidak dapat direduksi pada partikel. 2 

Dualitas gelombang dan partikel pada cahaya berpotensi untuk disikapi 
sebagai suatu bentuk idealisme, dimana cahaya sebagai materi bisa di¬ 
pahami secara relatif tergantung posisi pengamatan yang dipilih. Adalah 
epistemologi yang kemudian menentukan bentuk realitas yang dilihat. 
Namun pemahaman ini adalah pemahaman yang salah. Di sini kita harus 
memperhatikan perbedaan halus antara prinsip ketidakpastian Heisen- 
berg dengan komplementaritas Bohr. Heisenberg berpendapat bahwa kita 
tidak dapat membangun posisi dan momentum sebuah partikel secara 
simultan karena tindakan pengukuran mengintervensi konstelasi yang 
diukur dan mengganggu koordinatnya. Sementara Bohr memiliki posi¬ 
si yang lebih radikal mengenai substansi dari realitas itu sendiri, bahwa 
partikel itu sendiri tidak memiliki posisi dan momentum yang pasti, yang 
membuat kita harus meninggalkan gagasan standar ‘realitas objektif’ yang 
terdiri dari sepertangkat properti yang telah ditentukan. Dengan kata lain, 
bagi Bohr, di tingkatan sistem mikroskopik atom tidak ada (exist) dalam 
dan untuk dirinya sendiri (Rosenblum and Kuttner 2011,136). 


2 Bagi para materialis (khususnya kalangan materialis dialektis), dualitas ini dianggap 
sebagai bukti nyata dari kebenaran diktum Marxis mengenai ‘kesatuan atas yang ber¬ 
tentangan’ (unity ofthe opposite) (Grant and Woods, 2002). Akan tetapi cara penyimpulan 
seperti ini, bagi saya, adalah upaya yang dogmatis, karena proses ini tidak lebih sebagai 
upaya untuk melakukan justifikasi atas apa yang sudah dipercayai dibandingkan sebagai 
upaya untuk memahami dengan serius apa yang sebenarnya tengah terjadi. Di sini per¬ 
nyataan Engels menjadi penting, bahwa temuan saintifik harus selalu memiliki implikasi 
terhadap pemahaman atas materialisme itu sendiri. 


27 



Martin Suryajaya, dkk. 


Implikasi dari interpretasi Bohrian mengenai ketiadaan atom di tingkatan 
mikroskopik ini adalah realitas dalam fisika kuantum adalah realitas yang 
pada dasarnya tidak lengkap, bahwa ontologi secara keseluruhan (all) ada¬ 
lah ‘bukan-keseluruhan’ ( non-all ). Ontologi realitas atau materialisme itu 
adalah ontologi keterpecahan atas yang-satu (One), dimana dalam dirinya 
sendiri materi adalah kekosongan (void). Kekosongan ini harus dipahami 
sebagai tensi ekstrim, antagonisme atau kemustahilan yang memecah on¬ 
tologi. Kekosongan ini tidak terkonstitusikan secara penuh dalam konste¬ 
lasi realitas yang ada. Dengan kata lain, realitas dalam ontologi kekoson¬ 
gan mengondisikan secara internal eksepsi yang tidak dapat diinklusikan 
dalam dirinya sendiri. 

Pemahaman ontologi mengenai ketiadaan memiliki logika yang kongruen 
dengan ide Tuhan sebagai eksepsi radikal dari yang ada. Saya tidak me¬ 
ngatakan bahwa dalam konstruksi materialis ini Tuhan ada. Ide menge¬ 
nai Tuhan memiliki struktur yang serupa dengan materialisme itu sendiri. 
Dalam hal ini, dapat diargumentasikan, bahwa ide mengenai Tuhan tidak 
melulu menegasikan materialisme. Justru yang hendak ditegaskan bahwa 
ide mengenai Tuhan adalah seperangkat materialisme tertentu. 

Pertanyaannya kemudian, ketika Tuhan dilihat sebagai eksepsi, maka ek¬ 
sepsi atas apakah Tuhan? Menurut saya, kredo ‘tiada tuhan selain Tuhan’ 
mulai harus ditafsirkan secara materialis. Alih-alih tuhan politeis, tuhan 
(dengan t kecil) yang harus dinegasikan adalah tuhan intervensionis, yang 
menjamin kehidupan manusia (dan alam) itu sendiri. Tuhan yang ber¬ 
peran di semua aspek kehidupan. Tuhan yang bertindak sebagai, dalam 
psikoanalisa, yang-lain-yang-besar (Big Other) dengan kapasitasNya un¬ 
tuk mengatur semua hal dalam realitas, dimana ia menjamin semua mak¬ 
na yang ada dalam realitas itu sendiri. Tuhan ini tidak bisa ada, karena 
memang peranan intervensionis dia di ranah material ada pada hukum 
alam itu sendiri. Dalam hukum alam, keberadaan tuhan sebagai penguasa 
pengatur segala memang tidak diperlukan. 

Perihal Iman Materialis 

Jika memang Tuhan adalah eksepsi, lalu bagaimana eksepsi ini dimung¬ 
kinkan untuk ada dan aktual? Untuk menjawab pertanyaan ini, kategori 


28 


MARXISME DAN KETUHANAN YANG MAHA ESA 


iman dapat menjadi kunci. Berbeda dengan argumen Martin, iman adalah 
esensial. Ia bukanlah kategori mengenai ‘kurangnya pengetahuan’ yang 
memberikan ruang bagi Tuhan. Tapi, Tuhan itu ada hanya dapat dimung¬ 
kinkan dengan adanya iman itu sendiri. Argumentasi saya di sini sederha¬ 
na, semenjak Tuhan dalam konstruksi materialis adalah eksepsi radikal 
dari realitas, maka iman adalah kepercayaan mutlak atas eksepsi tersebut. 
Realisasi atas kepercayaan mutlak ini yang membuat Tuhan meng-ada dan 
aktual pada dirinya sendiri. 

Problem persepsi dalam fisika kuantum memberikan petunjuk pada 
bagaimana iman muncul secara imanen atas eksespsi dari realitas. Se¬ 
bagaimana telah dikemukakan sebelumnya, dualitas gelombang dan par¬ 
tikel membuka kemungkinan pembacaan idealis dimana problem terbesar 
dari memahami realitas terdalam adalah keterbatasan epistemologi, yang 
pada akhirnya menjustifiksi keutamaan subjektivitas. Akan tetapi, bagi 
Bohr, fisika kuantum berhubungan dengan pengukuran fenomena, bukan 
pada fenomena yang ‘berdiri di belakang: sebagai pendukung substansial: 
semua masalah tradisional yang membedakan antara properti yang men¬ 
jadi milik “hal-dalam-dirinya” (baca: substansi) dan properti yang hanya 
sekedar “muncul” (penampakan) karena aparatus perseptif kita yang ter¬ 
batas harus ditolak.’ Bagi Bohr, distingsi antara properti primer dan se¬ 
kunder seperti ini tidak lagi memadai, karena suatu hal ‘muncul,’ termak- 
tub dalam ‘dalam-dirinya sendiri.’ Penampakan dari suatu hal sebagai ‘hal,’ 
sebagai entitas substansial, adalah hasil dari kolapsnya fungsi gelombang 
melalui persepsi, jadi di sini gagasan hal yang ‘objektif’ adalah subjektif, 
tergantung dengan persepsi. 

Namun Bohr mengingatkan bahwa posisi ini tidak serta merta mengasum¬ 
sikan ‘ide membentuk realitas.’ Dalam kasus fisika kuantum, persepsi yang 
objektif mendorong kesimpulan bahwa kita dapat menentukan efek dari 
objek yang diobervasi. Bohr menolak posisi ini. Menurut dia, seseorang 
tidak dapat menentukan efek interaksi pengukuran atas objek yang diukur 
karena kita harus menentukan posisi foton dan momentum secara simul¬ 
tan, yang secara fisik mustahil karena pengukuran posisi dan momentum 
membutuhkan aparatus yang secara mutual eksklusif. Di sini kemudian 
Bohr menyimpulkan bahwa observasi hanya mungkin ketika kondisi ter¬ 
hadap efek pengukuran tersebut tidak dapat ditentukan. 


29 


Martin Suryajaya, dkk. 


Ada yang rumit dari posisi Bohr ini. Bohr seakan hendak mengombi¬ 
nasikan posisi signifikansi persepsi dengan indeterminasi persepsi da¬ 
lam objektifitas itu sendiri. Bagaimana hal ini dapat dipahami? Pada titik 
ini, Slavoj Zizek melakukan ‘balikan dialektis’ ( dialectical turn ) atas posisi 
Bohr. Bagi Zizek, Bohr mengajukan posisi reflektivitas ala Hegel dimana 
subjek terinklusi dalam ‘gerak-diri’ objek-yang-hendak-dipahami. Zizek 
berpendapat, jarak antara objek dengan refleksinya bukan bersifat ekster¬ 
nal (atau objek dalam dirinya, refleksinya adalah bagaimana hal tersebut 
muncul pada subjek yang mengobservasi), namun termaktub dalam objek 
itu sendiri sebagai substansi terdalam; sang objek menjadi apa yang dire¬ 
fleksikan oleh subjek. Eksterioritas objek ini diimplikasikan oleh gagasan 
refleksivitas yang disebut sebagai “eksterioritas di dalam” (Zizek 2012, 
931). 

Refleksivitas yang dikondisikan melalui fisika kuantum mempunyai im¬ 
plikasi pada bagaimana kita dapat memahami iman sebagai bagian dari 
struktur material. Iman, dalam hal ini, menjadi objektivitas yang tersub- 
jektivisasi (dan vice versa subjektivitas yang terobjektivisasi). Iman, de¬ 
ngan kata lain, dalam pembacaan materialisme, adalah sebentuk determi¬ 
nasi imanen dari ide mengenai Tuhan yang dikondisikan dalam eksepsi 
realitas itu sendiri. 

Determinasi imanen inilah yang kemudian menjadi agensi, yang memo¬ 
bilisasi sekaligus meregulasi tubuh subjek (atau hamba) dalam ide Tuhan. 
Akan tetapi, determinasi ini bersifat inkonsisten. Semenjak ontologi pada 
dasarnya adalah keseluruhan yang bukan-keseluruhan ( non-all ), maka de¬ 
terminasi imanen ini membuka kemungkinan untuk salah-baca ( misper- 
ceived). Dalam hal ini, yang-lain-yang-besar ( Big Other ) dimungkinkan 
untuk kembali sebagai representasi dari eksepsi, dimana keberadaan yang 
eksepsional dipercaya sebagai penjamin utama bagi makna iman. Tidak 
heran jika rupa keimanan yang eksepsional terkadang dipahami sebagai 
keimanan buta atas entitas yang tak terjangkau ( beyond ), yang menentu¬ 
kan semua tindak-tanduk hamba-Nya. Pembacaan tuhan seperti inilah 
yang dominan muncul dalam narasi fundamentalisme (baik fundamental¬ 
isme pasar maupun agama), dimana Tuhan menjadi penentu bagi semua 
hal di dunia. Manusia hanya menjadi bidak dari keinginan ( will ) Tuhan 
yang tidak dapat dipahami oleh manusia itu sendiri. Contoh paling vulgar 


30 


MARXISME DAN KETUHANAN YANG MAHA ESA 


dapat kita lihat pada bagaimana Bin Laden dan Bush sama-sama menggu¬ 
nakan Tuhan sebagai penjamin dari tindakan kekerasan irasional. Di sini, 
akhirnya, keimanan atas Tuhan menjad narasi utama untuk menyokong 
kembali status-quo. 

Namun, bagi iman materialis, tuhan sebagai yang-lain-yang-besar tidak 
ada dan tidak pernah ada. Iman atas Tuhan sebagai eksepsi untuk itu ha¬ 
rus ditempatkan sepenuhnya dalam kekosongan ontologis. Posisi Tuhan 
bukan sebagai penjamin makna, namun berada sebagai kekosongan yang 
menjadi ruang di luar konfigurasi yang ada. Mediasi kekosongan menjadi 
kemungkinan baru dapat dibaca melalui kategori psikoanalisa death drive 
(dorongan-kematian). Eksepsi dari kekosongan ontologi adalah kondisi 
dengan dorongan untuk menciptakan suatu objek parsial yang tidak dapat 
ditempatkan dalam konstruksi ontologi itu sendiri. Dalam kategori Laca- 
nian, objek parsial ini dipahami sebagai ohjet petit a (objek kecil a) dimana 
keberadaan dirinya adalah hasil dari dorongan yang terjadi di lokus kosong 
ontologi yang tidak lengkap itu sendiri. Kekosongan dalam ontologi men¬ 
ciptakan hasrat akan objek untuk mengisi kekosongan tersebut. Namun, 
sebagaimana dikemukakan Zizek, objek tersebut sudah selalu tidak ada. 
Dalam hal ini objek yang dihasrati ( desired object), via dorongan (drive), 
menjadi objek-penyebab keinginan (ohject-cause of desire) yang membuat 
hasrat akan kekosongan menjadi objek itu sendiri. Objek-penyebab keingi¬ 
nan ini menjadi objek tersendiri yang ke luar dari koordinat ontologi yang 
mengondisikannya (Zizek 2004). 

Konsekuensi dari iman sebagai dorongan di sini adalah setiap objek iman 
diharuskan untuk merealisasikan keberadaan-Nya melalui penciptaan 
kolektif baru di luar konfigurasi sosial yang ada (lihat pada termin umat 
sebagai kolektif keagamaan). Kolektif baru ini adalah representasi dari 
ekspsi yang mendeterminasi iman. Gestur ini banyak dipahami sebagai 
gestur sektarian mereka yang beriman, tapi pada dasarnya justru gestur 
ini adalah sejenis peristiwa (event) Badiousian, dimana kebenaran meng¬ 
aktualisasikan dirinya secara material. Kolektif baru inilah yang membuat 
mereka yang beriman sahih untuk menyatakan bahwa Tuhan ada, dan 
keajaiban Tuhan selalu ada. Tuhan beserta keajaibanNya, pada akhirnya, 
selalu beroperasi dalam kolektif ini. Dalam hal inilah iman yang sifatnya 
singular menjadi universal melalui ledakan kolektivitas. 


31 


Martin Suryajaya, dkk. 


Penutup 

Pada awal 1920an, salah seorang letnan terpercaya Lenin, Grigorii Zino- 
viev, menulis sejarah kontroversi partai yang berseliweran sekitar What 
Is To Be Done: ‘Ekonom pengritik Lenin akan berkata, “Jadi menurutmu 
(baca: Lenin), Apakah kelas pekerja adalah sang juru selamat (mesiah)?” 
untuk pertanyaan ini kita (Para Komunis) akan menjawab dan menjawab 
sekarang: juru selamat dan juru-selamatisme ( messianism ) bukanlah baha¬ 
sa kita dan kita tidak menyukai kata-kata tersebut: namun kita menerima 
konsep yang termaktub didalamnya; Ya! Kelas pekerja, dalam pemahaman 
tertentu, adalah sang juru selamat dan perannya adalah peran juru sela¬ 
mat... namun kita menolak termin semi-mistis seperti juru selamat dan 
juru-selamatisme dan lebih memilih termin yang lebih ilmiah: proletariat 
yang hegemonik!’ (Tulisan Zinoviev mengenai Lenin secara kasat mata da¬ 
pat dibaca sebagai penolakan Lenin akan mesianisme. Namun, di sini, kita 
harus membaca gestur Lenin secara dialektis. Bukankah penerimaan par¬ 
sial Lenin atas mesianisme, yang merupakan bagian inheren dari ide ten¬ 
tang Tuhan, menunjukkan bahwa ada kebenaran dalam agama itu sendiri? 
Bahwa Lenin, sang ateis besar, tengah mengoperasikan logika layaknya 
iman dalam agama ketika mengajukan peran kelas pekerja? Di sini kita 
menemukan suatu yang radikal dari ide mengenai Tuhan. Bahwa agama 
sebagai strukturalisasi ide mengenai Tuhan adalah prosedur materialis un¬ 
tuk mencapai kebenaran). 

Kontra teologi Martin: Tuhan bukan mengenai bagaimana ia dapat di¬ 
pahami, namun ia juga harus selalu diimani dalam pemahaman itu. Hal 
inilah yang kemudian membuat ide mengenai Tuhan selalu membuat kes¬ 
adaran mereka yang beriman selalu bergerak dan berupaya untuk mereal¬ 
isasikan ide tersebut dalam kenyataan praktis mereka. Dalam inilah Tuhan 
menjadi ada. 

Untuk itu, kredo iman materialis dapat (dan harus) ditulis ulang: 

Tiada tuhan Selain Tuhan 
Yang adalah kekosongan dalam ontologi materialis 
Yang mendeterminasi subjektivitas manusia 
dan mengaktualisasikan diri-Nya dalam relasi kolektif baru dalam sejarah 


32 


MARXISME DAN KETUHANAN YANG MAHA ESA 


Maka aku beriman kepada Tuhan 
Amin... Amin Yaa Rabbal Alamiin.*** 


Kepustakaan: 

Armstrong, K. 1993. History of God: The 4,000-year Quest for God. New 
York: Ballantine Books 

Grant, T., and Woods, A. 2002. Reason in Revolt: Dialectical Philosophy and 
Modern Science. New York: Algora Publishing 

McEvoy, J. P., and Zarate, O. 1999. Introducing Quantum Theory. Cam- 
bridge: Icon Books 

Rosenblum, B., and Kuttner, F. 2011. Quantum Enigma: Physics Encounters 
Consciousness (2nd Edition). Oxford: Oxford University Press. 

Zizek, S. 2004. Organs Without Bodies: Deleuze and Consequence. New York: 
Routledge 

Zizek, S. 2012. Less Than Nothing: Hegel and The Shadow o f Dialectical Mate- 
rialism. New York: Verso. 

Tulisan ini pertama kali muncul di laman IndoPROGRESS, 6 Januari 2014: 
http://indoprogress.com/2014/01/tuhan-sebagai-eksepsi-perihal-teologi-ma- 
terialis/ 


33 


III 


Tuhan Di Bumi 

Hizkia Yosie Polimpung 
Tentang Teologi Materialis 

MENYAMBUNG renungan Natal dari Martin Suryajaya, tulisan ini hen¬ 
dak menawarkan rute lain dalam meretas jalan menuju suatu teologi yang 
punya daya emansipasi, bahkan daya konfrontasi—hal-hal yang kita bu¬ 
tuhkan saat ini untuk melakukan perlawanan terhadap sistem eksploi- 
tatif kapitalisme hari ini. Keberatan saya terhadap Martin hanya pada 
caranya dalam memperlakukan teologi. Ibarat seorang pemandu bakat, ia 
mengaudisi teologi dalam standar-standar yang ia tentukan sendiri sebe¬ 
lumnya. Tidak heran, pertanyaan yang diajukannya adalah ‘[bjagaimana 
mungkin materialisme historis dan materialisme dialektis mengakomodasi 
teologi?’ Akibatnya, kita seakan diperlihatkan pada suatu panorama abad 
pertengahan dengan versi terbalik: teologi harus tunduk pada gada logika. 

Keberatan ini bukan muncul dari suatu aspirasi konyol akan kesetaraan 
dan keseimbangan di antara keduanya. Sama sekali bukan ini. Yang ingin 
saya tekankan adalah bahwa tidak hanya potensi emansipatoris, namun 
bahkan potensi konfrontatif sistemik telah terdapat secara inheren dalam 
teologi itu sendiri. Sehingga, tidaklah perlu kita mengaudisinya sesuai 
dengan rambu-rambu revolusioner kita. Inilah yang juga akan saya coba 
tunjukkan melalui tulisan ini: memunculkan watak revolusioner dari teo¬ 
logi itu sendiri. Karena tulisan ini masih berada di sekitar perayaan Natal, 
maka saya akan pakai teologi Kristen untuk ini. 

Hal pertama yang penting untuk diklarifikasi terlebih dahulu adalah per¬ 
tanyaan mendasar seperti: apa itu materi dalam materialisme? Pandangan 
standar mengenai filsafat materialisme biasanya berkisar pada keyakinan 
naif bahwa tidak ada segala sesuatu yang berada di luar determinasi ma¬ 
teri. Ide, misalnya, tidak lebih dari mimpi di siang bolong. Pandangan 
seperti ini juga menjalar ke ekonomi politik, bahwa basis material, yaitu 


MARXISME DAN KETUHANAN YANG MAHA ESA 


relasi sosial produksi, adalah yang menentukan segalanya—regulasi, nega¬ 
ra, ideologi, institusi, dst. Begitu pula bagi ilmu kebudayaan, yaitu bahwa 
seluruh sistem kebudayaan terdeterminasi oleh basis materialnya, yaitu 
ideologi borjuis/kapitalis. Agama dan ajarannya, misalkan, akan dilihat 
sebagai manifestasi sekaligus konstitutif bagi langgengnya struktur domi¬ 
nan di masyarakat. Epistemologi demikian—yaitu terdapat suatu struktur 
material yang serba menentukan dan mengatur segala sesuatunya—ak¬ 
hirnya mendudukkan yang material sebagai semata-mata manifestasi dari 
strukturnya. Akhirnya, tidak akan ada suatu apa pun yang lepas dari je¬ 
ratan struktur material ini. 

Tulisan ini merupakan ungkapan keberatan saya terhadap pandangan ma¬ 
terialisme yang demikian ini. Beberapa alasan akan dikemukakan pada 
bagian berikutnya. Terlebih, penekanan akan diberikan pada implika¬ 
si-implikasi filosofis (dan teologis) dan politis dari keberatan tersebut. 

Materialisme mesianik 

Dari penjabaran di atas, setidaknya terdapat tiga keberatan sentral yang 
saya ajukan: pertama, asumsi tentang totalitas yang inheren. Struktur 
material diasumsikan utuh pada dirinya sendiri. Masalahnya, bukankah 
dengan mengasumsikan totalitas yang demikian ini materialisme justru 
jatuh pada transendensi versi lain? Hal ini lantas membawa saya pada 
keberatan kedua, bahwa telah terjadi re-transendentalisasi materialitas. 
Dengan kata lain, saat para materialis ini menolak transendensi, mereka 
malah memindahkan kualitas-kualitas transenden, yang entah dari mana 
asal-usulnya ( thus, ahistoris), ke dalam materi. Materi, akhirnya memiliki 
sifat-sifat transenden. Mirip animisme. 

Keberatan ketiga saya adalah sifat keter-mediasi-an dari materi yang sea¬ 
kan-akan disepakati oleh keseluruhan pendukung materialisme ini, seka¬ 
lipun terdapat perbedaan trivial di antara mereka. Manifestasi material 
dilihat sebagai suatu sistem objek yang diproduksi secara sosial yang, ten¬ 
tu saja, produksinya dihegemoni oleh segelintir orang (kelas dominan?). 
Namun tetap saja, memahami materialitas seperti ini harus dimediasi 
oleh manusia sebagai penghuni ‘segelintir orang’ ini. Kubu relativis/pas- 
castrukturalis, juga sama, hanya saja ia memberikan kesempatan privilese 


35 


Martin Suryajaya, dkk. 


hegemonik tersebut tidak pada segelintir orang saja, tapi pada kita semua 
sepanjang kita bertindak sebagai produsen narasi sejarah. Akhirnya, kita 
akan selamanya menantikan ‘orang’ atau ‘segelintir orang’ tertentu (baca: 
pemimpin, partai, ratu adil, mesias) yang dapat memproduksi sistem 
obyek material yang revolusioner. 

Keberatan ini sebenarnya bukan disebabkan karena kesirikan saya atas 
gestur ‘kembali ke tuhan/transendensi’ per se, melainkan lebih kepada 
kepasrahan milenarian yang memotivasi gestur tersebut. Materialisme 
akhirnya menjadi tidak lebih dari ritual asketis menunggu kedatangan 
sang mesias. Untuk keluar dari deadlock ini, nampaknya kita perlu me¬ 
rumuskan semacam ‘materialisme kultural pasca-konstruktivis.’ 1 Upaya 
untuk mempertimbangkan keberatan-keberatan di atas, dan tentu juga 
mencarikannya jalan keluar, mendapatkan momennya pada era saat ini di 
mana perubahan dan alternatif radikal mendesak diperlukan saat umat 
manusia, di satu sisi dihadapkan pada kegagalan seluruh korelat modern¬ 
itas (sekulerisme, rasio, negara bangsa, kapitalisme, demokrasi), namun 
di sisi lain, sudah tidak tersisa lagi aspek-aspek material yang tidak ter¬ 
jamah (baca: termediasi, terkonstruki, terdeterminasi) korelat moderni¬ 
tas tadi (terutama kapitalisme dan negara bangsa)—membuat semua tak 
lebih dari sekedar faktor produksi dan/atau komoditas. Kemendesakkan 
untuk merangsek ke luar dari belenggu ini tidak cukup dengan senantia¬ 
sa tawakal dan menunggu kehadiran sang penyelamat agung. Perlu upaya 
yang lebih proaktif dan militan dari sekedar menanti-nanti. 

Menuju Materialisme Transendental 

Salah satu upaya teoritik yang dapat dilakukan adalah dengan mengubah 
cara pandang terhadap materialisme itu sendiri. Determinasi aspek mate¬ 
rial tidak selamanya harus berwajah milenarian, melainkan ia tetap dapat 
berwajah materialis. Materialisme ini, dengan demikian, melihat tuhan 
bukan dari atas sana, melainkan tuhan yang secara imanen telah selalu ada 
di dalam materi itu sendiri. Inilah tugas utama materialisme, atau untuk 
tujuan pembeda, saya akan menyebutnya ‘materialisme transcendental:’ 
memikirkan transendensi dalam imanensi material; suatu ketak-terhing- 


1 Adrian Mackenzie, ‘Book Review: N. K. Hayles, My Mother Was a Computer: Digital 
Subjects and Literary Texts,’ Theory, Culture & Society, 25, 5 (2008), hal. 148. 


36 



MARXISME DAN KETUHANAN YANG MAHA ESA 


gaan dalam keterhinggan; suatu tuhan di bumi—dan bukan di surga. 2 De¬ 
ngan definisi seperti ini, para pembelajar teologi akan segera teringat akan 
definisi umum dari teologi. Itulah mengapa saya tekankan di awal bahwa 
materialisme sebenarnya sudah inheren di dalam teologi itu sendiri. 

Setidaknya ada beberapa langkah yang bisa ditempuh untuk mengem¬ 
ban tugas tersebut. Salah satu yang terpenting adalah memecahkan apa 
yang dapat disebut ‘misteri materialitas,’ yaitu berkaitan dengan perta¬ 
nyaan ‘mengapa materialitas yang seperti itu, dan bukan yang lainnya?’ 
Menerapkan model pertanyaan seperti ini ke problem materialisme, maka 
pertanyaanya bisa menjadi: mengapa ideologi dominan memanifestasi 
dalam suatu sistem obyek yang partikular tersebut, dan bukan lainnya? 
Pertanyaan ini akan mengarahkan analisis untuk memahami spesifisitas 
materialisasi tersebut, dan bukan prinsip struktural general yang melan¬ 
dasinya. Spesifisitas ini berlaku temporal dan spasial. Analisis spesifisitas 
yang dimaksud sama seperti, di antaranya, Roland Barthes memahami 
penari telanjang, 3 Adrian Mackenzie mempelajari sintaks sistem operasi 
Linux, 4 dan Alex Galloway mempelajari algoritma perangkat lunak video 
game. 5 Hal ini penting karena seperti juga telah ditandaskan Freud ten¬ 
tang mimpi, yaitu bahwa misteri ketidaksadaran bukan pada ‘makna’ (isi 
laten) mimpi tersebut, melainkan justru pada bentuk tampilannya, yaitu 
materialitasnya, demikian pula misteri materialitas bukan terletak pada 
makna sosio-kultural atau siapa yang berkepentingan di baliknya, melain¬ 
kan justru pada bentuk material/kongkritnya. 


2 Pandangan saya dalam tulisan ini banyak terinspirasi dari materialisme baru a la Slavoj 
Zizek, Parallax View (MIT Press, 2006); dan materialisme teologis a la Clayton Crockett 
and Catherine Malabou, ‘Plasticity and the Future of Philosophy and Theology,’ Political 
Theology, 11,1 (2010). Untuk konsep ‘materialisme transendental’ saya pinjam dari Adri¬ 
an Johnston, Zizek's Ontology: A Transcendental Materialist Theory of Subjectivity (North¬ 
western Uni Press, 2008). 

3 Roland Barthes, Mythologies (Noonday Press, 1972), hal 84-8. 

4 Adrian Mackenzie, ‘The Performativity of Code: Software and Cultures of Circulation,’ 
Theory, Culture & Society 22, no. 1 (2005). 

5 Alexander Galloway, Gaming: Essays on Algorithmic Culture (Uni Minnessota Press, 
2006). 


37 



Martin Suryajaya, dkk. 


Langkah di atas berikutnya membuka jalan bagi langkah berikutnya. 
Memahami bahwa misteri telah selalu terkandung dalam materi, sama 
saja melihat materi tersebut sebagai sesuatu yang berkekurangan. Ter¬ 
dapat lubang abadi yang akan selalu mencegah materi tersebut menjadi 
absolut. Memahami lubang keabadian dalam suatu materialitas ini agak¬ 
nya mustahil tanpa berputar pada psikoanalisis Jacques Lacan. Lacan 
menunjukkan bagaimana logika ketak-terhinggaan dalam keterhinggaan 
ini adalah logika beroperasinya hasrat manusia: tak pernah cukup terp¬ 
uaskan. 6 Hasrat manusia bak lubang hitam yang menyedot segala sesuatu 
demi suatu kepuasan yang mustahil. Bagaimanapun juga, hal ini menun¬ 
juk pada kemungkinan untuk memahami suatu ketak-terhinggaan dalam 
keterhinggan. 

Keberadaan ketak-terhinggaan ini memiliki dua konsekuensi yang sifat¬ 
nya ambigu: pertama, ia akan membuat kontainer materialnya, yang ser¬ 
ba terhingga, senantiasa berada pada kondisi tak menentu; seketika saja 
saat ketak-terhinggaan ini mencuat keluar, kontainer itu akan menderita 
krisis. (Bayangkan, misalnya, saat keseharian kita diganggu oleh perasaan 
cinta yang absurd—dalam artian ketak-terhinggaan dan ketak-terjelas- 
kan—maka semuanya akan berantakan!). Kedua, sekaligus sebaliknya, ia 
merupakan sumber segala kemungkinan yang dapat mengubah materiali¬ 
tas tadi. Inilah tuhan 7 materialis: di satu sisi ia sumber bencana dan devia¬ 
si, tapi di sisi lain, ia sumber potensialitas. 8 (Bukankah potensialitas ilahi 
ini yang hari-hari ini diperlukan untuk mendatangkan bencana bagi mesin 
raksasa kapitalisme dan Goliath negara-bangsa?). Dengan konsepsi tuhan 
seperti ini, maka perlu pula dilakukan revisi bagi gagasan teologi yang no- 

6 Lihat pembahasan Lacan tentang ‘kepadatan’ ( compactness ) sebagai struktur topolo- 
gis dari penikmatan akan Liyan ( Jouissance ofthe Other). Jacques Lacan, The Seminar of 
Jacques Lacan Book XX: Encore, On Feminine Sexuality, The Limits of Love and Knowledge 
(W.W. Norton, 1998 [1972-3]), hal 9. 

7 ‘tuhan’ (dengan ‘t’ kecil) yang imanen dalam materialitas, untuk membedakan dari ‘Tu¬ 
han’ (dengan ‘T’ besar) yang merupakan suatu transendensi. 

8 Deleuze dan Guattari juga menyadari hal ini, untuk kemudian mengeksploitasinya de¬ 
ngan brilian. Lihat Anti-Oedipus: Capitalism and Schizophrenia (Minnessota Uni Press, 
1983). Lihat juga Daniel W. Smith, ‘The Inverse Side of the Structure: Zizek on Deleuze 
and Lacan,’ Criticism, 46, 4 (2004) dan Luke Caldwell, ‘Schizophrenizing Lacan: Deleuze, 
[Guattari], and Anti-Oedipus’ intersections , 10, 3 (2009). 


38 



MARXISME DAN KETUHANAN YANG MAHA ESA 


tabene merupakan ‘bidang studi’ yang mengkaji ‘Tuhan.’ 

Teologi Materialis dan Iman Ateis 

Tugas utama teologi materialis bukan hanya memahami tuhan materialis, 
namun terlebih ia juga menginvestigasi segala daya upaya untuk mengon¬ 
disikan kehadirannya. Hal ini utamanya dilakukan dengan menetapkan di¬ 
mensi ontologis dari materi, yaitu sebagai suatu totalitas yang sepaket de¬ 
ngan negativitasnya, lack- nya. Mengapa demikian? tuhan yang imanen da¬ 
lam materi tidak akan pernah kompatibel dengan sifat keterhinggaan ma¬ 
teri tersebut; ia akan selalu melubangi materi. Totalitas, dengan kata lain, 
bukanlah suatu absolusitas; ia selalu berkekurangan. Dalam materialitas 
Kapitalisme-Neoliberal, misalnya, Burger King yang lezat adalah sepaket 
dengan nasi aking yang dimakan orang di Yahukimo; pembangunan Dis- 
neyland di California sepaket dengan perampasan tanah di India, Nepal, 
Cina, Papua, dst.; sorak gembira ABG labil di konser Korean-Pop adalah 
sepaket dengan jeritan anak-anak saat tentara AS mendobrak pintu-pin¬ 
tu pemukiman di Baghdad, dst.; tawa menggemaskan SBY juga sepaket 
dengan jerit geram Sondang Hutagalung saat membakar dirinya di depan 
istana. ‘"Material reality is non-all” [...] is the true formula of materialism,’ 
tandas Zizek. 9 

Tanpa negativitas ini, materialitas hanyalah menjadi nama lain bagi 
transendensi. Kemustahilan (untuk menjadi utuh, dalam artian absolut) 
adalah fitur utama materialitas realitas semenjak negativitas, ketiadaan, 
atau kehampaan senantiasa menghantuinya. Lalu pertanyaannya kemu¬ 
dian, apabila realitas material yang kita jalani sehari-hari adalah suatu 
kemustahilan, bagaimana bisa ia (dan kita yang ada di dalamnya) berta¬ 
han? Di sinilah letak keajaiban materialisme transendental: realitas dapat 
berjalan tanpa dikendalikan oleh Tuhan transenden! 10 Ketimbang pembacaan 
anarkis, yaitu bahwa semuanya berjalan secara acak, hal ini sebaiknya 

9 Slavoj Zizek, ‘Towards a Materialist Theology,’ Angelaki: Journal of Theoretical Human- 
ities 12, no. 1 (April 2007), hal. 24. 

10 ...dan kita, yang ada di dalamnya, bisa bertahan karena kita menciptakan semacam 
mekanisme pertahanan dengan menciptakan fantasi (Lacan menyebutnya fundamental 
fantasy) untuk menambal (to suture) bolongan ketidak-utuhan realitas tadi, memberinya 
dengan rupa-rupa pemaknaan atas ketak-bermaknaan realitas. 


39 



Martin Suryajaya, dkk. 


dibaca sebagai akibat dari suatu kenyataan bahwa terdapat agen lain (tersem¬ 
bunyi, namun sepenuhnya nyata) yang mengonstruksikan realitas kita sebagai 
suatu dunia yang tersimulasi. 11 Jadi jelas di sini bahwa agensi sebenarnya 
bukan pada Tuhan transenden, melainkan pada tuhan yang imanen pada 
realitas material. 

Mencoba memformulasikan agensi tuhan materialis yang imanen pada 
realitas material ini, saya kira ada perlunya merefleksikan konsepsi rea¬ 
litas yang memungkinkan kehadiran agensi tersebut. Setidaknya ada tiga 
bentuk penampakkan realitas: jika realitas pertama adalah realitas obyek 
yang independen dari pemahaman manusia (ini umumnya merupakan 
bidang kajian filsafat realisme), dan realitas kedua adalah realitas pema¬ 
haman manusia akan obyek (bidang kajian fenomenologi), maka realitas 
ketiga, sekaligus yang paling kompleks, adalah realitas dimana sang 
obyek secara obyektif dan spesifik menampakkan dirinya kepada 
sang subyek. Zizek memformulasikannya dengan baik terkait petunjuk 
untuk memahami ini melalui suatu pertanyaan pemantik atas apa yang 
saya sebut ‘realitas ketiga:’ “[tjhere is the way things really are. There is the 
way things appear to [our perception]. There is the way things objectively ap- 
pear to us even ifwe do not know how they appear to us.’ 12 Adalah bentuk ket¬ 
iga ini di mana kita dapat saksikan agensi pada sisi materi itu sendiri, dan 
lepas dari seluruh kontruksi dan mediasi manusia. Untuk dapat melihat 
agensi ini, maka teologi materialis akan membantu kita untuk menolak 
dan menegasikan seluruh upaya-upaya pemaknaan transenden bagi rea¬ 
litas material. 

Lalu bagaimana melihat agensi ini? Dengan iman tentunya. Namun, bu¬ 
kan iman dalam pengertian agama-agama konvensional. Iman yang dibu¬ 
tuhkan adalah iman ateis, karena hanya ateis saja yang bisa benar-benar 
percaya. Ateis yang dimaksud bukanlah suatu identitas yang fxed, yang 
dengan gagahnya memproklamirkan ‘tuhan tidak ada’ dengan argumen 
empirik naif—klaim konyol: ‘karena tuhan tidak terlihat maka tuhan tidak 

11 Ibid., hal. 23. 

12 Slavoj Zizek, ‘Hegel as Critic of Mara: King, Sex, Rabble and War,’ ceramah pada kon¬ 
ferensi ICI dengan tema ‘One Divides into Two: Dialectics, Negativity and Clinamen,’ 
Berlin, 29-30 Maret 2011. Penekanan dari Zizek. [Video rekaman bisa diakses di www. 
ici-berlin. org/de/docu/one-divides-into-two/]. 


40 



MARXISME DAN KETUHANAN YANG MAHA ESA 


ada.’ Ateisme yang saya rujuk di sini adalah sebentuk mentalitas, etos. 
Mentalitas ateistik akan selalu menolak upaya-upaya untuk menjelaskan 
segala sesuatunya melalui narasi agung nan mulia Tuhan transenden— 
agama, moral, HAM, demokrasi, kebaikan, keadilan, kemanusiaan, ke- 
Timur-an, dst. Ateis selalu berkeras bahwa realitas bukanlah dikendalikan 
oleh Tuhan-Tuhan transenden ini. Bahkan, ateis memandang bahwa dunia 
ini tidak berarti apa-apa (meaningless )—dalam artian pascamodern, yai¬ 
tu tidak ada makna, fondasi dan penjamin bahwa segala sesuatunya akan 
baik-baik saja. Ateisme adalah afirmasi tuhan materialis yang mewujud 
dalam bentuk negasi tanpa ampun terhadap narasi Tuhan transenden. 
Jelas di sini, ateisme bukan sebentuk selebrasi dan pasifitas; ateisme selalu 
berupa aktif-itas perlawanan. 

Peperangan Rohani dan Teladan Paradigmatik Yesus 

Menutup tulisan ini, saya akan menyajikan dua cerita: yang pertama pem¬ 
bacaan kisah Ayub dengan pembacaan teologi materialis, kedua tentang 
tuhan yang menderita bersama kita. Sebagaimana diketahui, Ayub adalah 
seorang abdi Tuhan. 13 Suatu saat Tuhan bertaruh dengan Iblis tentang 
apakah Ayub akan tetap menjadi abdi yang setia apabila berkat-berkat Tu¬ 
han dicabut darinya. Tuhan pun sepakat, maka dicabutlah kekayaan, kel¬ 
uarga dan kesehatannya. Sawahnya dirampok, rumahnya hancur terkena 
bencana, yang juga merenggut ketiga anaknya. Ayub sendiri terkena kusta 
yang menjijikan.... tapi Ayub masih bertahan. 

Lalu masuklah sang istri Ayub dalam cerita. Ia menyuruh Ayub untuk 
meninggalkan Tuhan; tapi Ayub menolak sembari menekankan bahwa ia 
tidak bersalah. Akhirnya istri Ayub meninggalkannya untuk menikahi pria 
lain. Lalu datanglah tiga orang kawan Ayub. Ketiganya mencoba menase- 
hati Ayub: ‘mungkin kamu kena tulah’—Ayub menolak; “mungkin kamu 
melakukan kesalahan pada Tuhan”—Ayub menolak; ‘mungkin ini dosa 
turunan’—Ayub menolak; bahkan, Ayub mengusir mereka. Ayub ber- 
balik pada Tuhan dan melayangkan protesnya! Ayub marah! Ayub bersi¬ 
keras bahwa tidak ada penjelasan bagi penderitaannya. Ayub meminta 
pertanggungan-jawab Tuhan atasnya, dan bukan pemaknaan! (Andai saja 


13 Mulai dari sini, saya akan mengikuti versi Alkitab saat menulis kata ‘Tuhan’ (‘T’ be¬ 
sar). Untuk cerita Ayub ini saya ambil dari Alkitab, kitab Ayub. 


41 



Martin Suryajaya, dkk. 


Ayub tahu bahwa penjelasannya adalah keisengan Tuhan dan Iblis, ia pasti 
akan balas mengumpat ‘sekarang aku, nanti rasakan saat anakmu Yesus 
harus di -bully di kayu salib. ’ 14 Inilah iman Ayub, suatu iman ateistik, yang 
karena militansinya, ia mendapatkan ganjaran setimpal: kekayaannya dili¬ 
patgandakan, dikarunia keluarga baru, dst. 

Cerita kedua, dalam film Shooting Dogs, 15 saat orang-orang Hutu di Rwan¬ 
da memburu orang-orang Tutsi, scene diarahkan pada suatu pembicaraan 
sekelompok Tutsi yang bersembunyi di sebuah sekolah. Tahu bahwa tidak 
ada harapan lagi bagi mereka untuk lari lagi, seorang guru muda berta¬ 
nya kepada pendetanya: Bapa, dimana Tuhan saat ia kita butuhkan untuk 
mencegah pembantaian ini semua? Jawab sang pendeta, ‘God is now pres- 
ent here more than ever, He is suffering here with us’ Iman ateistik Ayub dan 
tuhan yang menderita dan berjuang bersama kita seperti inilah yang kita 
butuhkan saat ini, dan bukan tuhan di atas sana yang dengan isengnya 
mengontrol segala sesuatu dengan remote sembari duduk di kursi malas¬ 
nya. Tuhan materialis adalah tuhan yang memimpin manusia yang per¬ 
caya padanya dalam suatu peperangan rohani. 

Peperangan rohani, menggunakan terminologi Paulus, bukanlah menum¬ 
pas habis orang-orang yang berbeda (secara suku, agama, ras, golongan, 
kepentingan politik, kelas, dst.). 

‘[K]arena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi 
melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan 
penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.’ 16 

Dengan demikian, peperangan rohani, secara materialis adalah pepe¬ 
rangan untuk mengonfrontasi seluruh proses-proses di luar manusia (‘da¬ 
rah dan daging’)/ nir-manusia yang mengarahkan dunia ini ke jurang kri¬ 
sis dan bencana. Ketimpangan, diskriminasi, ketidak-setaraan yang kerap 

14 Bdk. Slavoj Zizek, John Milbank, Creston Davis, The Monstrosity ofChrist: Paradox or 
Dialectic (MIT Press, 2009), hal. 56. 

15 Ditayangkan tahun 2005; disutradarai oleh Michael Caton-Jones. Di Amerika Serikat, 
film ini dirilis dengan judul Beyond the Gates pada tahun yang sama. 

16 Efesus 6: 12, Alkitab (terj. LAI). 


42 



MARXISME DAN KETUHANAN YANG MAHA ESA 


menghiasi pelataran media informasi-komunikasi cetak, digital, visual 
dan jejaring kita hari-hari ini bukanlah sekedar akibat dari problem ‘darah 
dan daging’—misal: keserakahan, kurangnya kepemimpinan, kendornya 
supremasi hukum, degradasi moral, dst. Lebih dari itu, semuanya meru¬ 
pakan efek dari pengkondisian sistemik yang deviasional. Pengkondisian 
sistemik inilah yang semestinya diperangi. Bukankah ini yang dimaksud 
Paulus saat menyebut musuh kita sebagai ‘roh-roh jahat di udara! 

Lalu bagaimanakah berperang dengan berangkat dari telogi materialis ini? 
Untuk ini, Yesus, dengan memberi diri disalibkan, memberi contoh para¬ 
digmatik yang baik— dan bukan contoh mentah-mentah bahwa orang har¬ 
us disalib untuk melawan! Yang dicontohkannya adalah dengan berperang 
dengan cara yang tak terpahami. Pelajaran paradigmatik perlawanan Yesus 
adalah bahwa Ia, dengan memberi diri disalibkan, tidak hanya melawan 
maut alias rezim penindasan sang Iblis. Lebih dari itu, dengan memberi diri 
disalibkan, Yesus melawan sistem pengondisian yang membatasi jangkauan 
kemungkinan cara perlawanan terhadap sistem itu dilakukan! 17 Yesus masuk 
ke jantung sistem dan menghujamnya dengan telak. Yang dilakukan Ye¬ 
sus tidak hanya menumpas sistem perbudakan dosa, lebih dari itu, Ia juga 
menghajar sistem yang memungkinkan sistem perbudakan dosa tersebut. 
Yesus mampu keluar dari dan berbalik melawan anggapan umum tentang 
perlawanan yang mungkin, sebagaimana disediakan oleh sistem berpikir 
dominan seperti misalnya yang diolok-olokkan orang Yahudi kepadanya 
saat disalib: memanggil sebatalion malaikat, menggunakan kuasa Allah 
untuk turun dari salib, dst. 18 

Berpaling kepada ide-ide muluk nan melangit tentang hak asasi manu¬ 
sia dan kemanusiaan universal, atau pada ide-ide munafik (hipokrit) se- 


17 Sistem yang saya maksud telah-selalu melakukan mekanisme bertahan yang demiki¬ 
an: ia mengantisipasi perlawanan telak (dan bukan yang sekedar menggelitik) padanya 
dengan menyediakan, mengatur dan kemudian mensosialisasikan koridor kemungkinan 
(field of possibility) perlawanan terhadapnya. Akibatnya perlawanan yang dilangsungkan 
masih dalam koridor kemungkinan tersebut, nasibnya cuma satu: gagal. Perlawanan 
yang telak adalah perlawanan yang pertama-tama keluar dari koridor kemungkinan (de¬ 
ngan demikian masuk pada dimensi ketidak-mungkinan) dan berbalik melawan sistem 
yang menyediakan koridor kemungkinan tersebut. Inilah yang dilakukan Yesus. 

18 Lihat Matius 27: 39-44; Markus 15:29-32; Lukas 23:35-39, Alkitab. 


43 



Martin Suryajaya, dkk. 


hari-hari seperti ‘kasihan’, ‘iba’, dan kedermaan filantropis (charity), se¬ 
perti yang kerap disuntikkan rangsangannya oleh berbagai rupa reality 
show dan film-film seperti Laskar Pelangi, adalah mengulangi kebodohan 
menyedihkan murid-murid Yesus yang hanya bisa menganga dungu sem¬ 
bari mengantar kenaikan gurunya dengan tatapan lugu. 19 (Penting: baca 
catatan kaki!) 20 Berharap ada orang di luar sana—pemimpin ideal yang 
berkarakteristik, bergelar lulusan ‘luar negeri,’ berpakaian dan beratribut 
relijius—sama saja mengingkari dan menolak kenyataan bahwa api Pen- 
takosta telah dihinggapkan pada kita semua sehingga kita semua memiliki 
segala potensialitas yang dibutuhkan untuk memerangi seantero musuh. 21 

Mengikuti teladan Yesus bukanlah menjiplak mentah-mentah yang ter¬ 
tera dalam Alkitab. Namun yang lebih penting adalah memetik teladan 
paradigmatik darinya dan menerapkannya dalam kehidupan hari ini. Ke- 
hari-ini-an berbicara tentang aktualitas yang spesifik secara temporal. 

19 Lihat Kisah Para Rasul 1:11, Alkitab. 

20 Teramat penting untuk diklarifikasi! Saya katakan munafik, karena secara psikoanal- 
itis, perasaan-perasaan ini menyembunyikan suatu hasrat narsisisme-egois yang sama 
sekali kontradiktif dengan efek filantrofis-dermawan yang ditampakkannya. Contohnya, 
iba kepada orang miskin, menyembunyikan dua lapis kemunafikan: perasaan iba muncul 
karena seseorang merasa lebih “beruntung,” sehingga ia merasa berdosa dan akan sangat 
kejam jika tidak membagi keberuntungan tersebut melalui bersedekah/beramal. Tidak 
ada yang salah. Melainkan dimensi hipokrit segera terasa: orang melakukan sedekah dan 
amal tersebut semata-mata untuk menghilangkan perasaan bersalah tadi—dan bukan 
maksud tulus membantu. Hipokrisi kedua adalah bahwa tindakan amal tadi adalah un¬ 
gkapan malas yang bersangkutan untuk benar-benar “membantu” orang miskin tadi. Di 
katakan malas karena ia tidak pernah mau secara militan berpikir ruwet untuk melihat 
kondisi-kondisi apa yang membuat orang tersebut termiskinkan. (Kemalasan ini tentunya 
terima kasih kepada kultur instan, praktis, pragmatis yang mewarnai kehidupan sosial 
hari ini). Absennya militansi paradigma pikir ini membuat amal/sedekah tadi tidak akan 
mampu benar-benar menolong si miskin. Hal ini tidak hanya dalam artian mengentas¬ 
kannya dari kondisi yang memproduksi si miskin tersebut dan para miskin lainnya, me¬ 
lainkan juga melawan kondisi tersebut yang notabene merupakan proses yang membuat 
kita (yang merasa ‘beruntung’) dan si miskin (yang ‘malang’) setara, suatu proses yang 
membuat si miskin harusnya juga ‘beruntung’—atau sebaliknya, yang membuat kita ha¬ 
rusnya juga ‘malang.’ 

21 Api Pentakosta adalah api spiritual yang dikirim Tuhan 40 hari setelah kenaikan Ye¬ 
sus ke surga. Api ini memampukan rasul-rasul melakukan hal-hal ajaib, di luar akal pikir 
manusia. Lihat Kisah Para Rasul 2: 1-13, Alkitab. 


44 



MARXISME DAN KETUHANAN YANG MAHA ESA 


Konsekuensinya, ‘hari ini’ satu milenium lalu berbeda dengan ‘hari ini’ 
seabad yang lalu, atau sewindu yang lalu. “Hari ini” berbicara tentang sua- 
tu kondisi kekinian yang ‘aktual terjadi’ (actually existing). Tanpa pendasa¬ 
ran pemahaman obyektif (baca: riset!) tentang tentang apa yang secara ak¬ 
tual sedang terjadi—krisis, eksploitasi, penindasan—maka Alkitab tida¬ 
klah lebih sebagai skriptura antik yang tidak memiliki relevansi hari ini. 
Akibatnya, para pembaca Alkitab akan berakhir pada kesimpulan a la Dan 
Brown, yaitu Yesus berhubungan seksual dengan Maria. Memperlakukan 
teladan Yesus sebagai teladan paradigmatik, maka akan membuat orang 
untuk kembali ke pergumulan dan penderitaannya sehari-hari—Ya! Anda 
harus menderita!—dan berperang dari sana. 

Penutup 

Pembahasan mengenai Ayub, peperangan rohani, dan teladan salib Yesus 
ini sekiranya dapat menunjukkan bagaimana potensi konfrontatif siste¬ 
mik yang kita butuhkan hari ini untuk melawan kapitalisme dan neolibe- 
ral, sebenarnya telah ada dan inheren dalam teologi itu sendiri. Dengan 
mengubah sedikit cara pandang kita terhadap teologi ke arah yang materi¬ 
alis, maka bisa kita lihat dan manfaatkan potensi revolusioner dari teologi 
tersebut. Yang saya lakukan barusan adalah menggali dari teologi Kristen. 
Tidak lantas berarti saya hendak mempromosikan agama ini. Yang hendak 
saya sampaikan adalah bahwa upaya serupa juga perlu dilakukan pada teo¬ 
logi dari agama lainnya secara spesifik. Bukankah ini konsekuensi berpikir 
secara materialis, yaitu dengan masuk dan mengkonfrontasi langsung ke 
spesifisitas doktrin teologi—sebagai materialitas—-tersebut?*** 

Catatan redaksi: Versi terdahulu dari makalah ini pernah disajikan se¬ 
bagai bahan diskusi pada panel ‘Agama dan Materialisme’ kelas Filsafat 
Religi, Program Doktoral Filsafat, Univ. Indonesia, Depok, 12 Desember 
2012. Penulis menyampaikan terima kasih untuk segenap kritikan yang 
masuk dari para partisipan diskusi tersebut. Kritik dan komentar dapat 
disampaikan langsung atau melalui email: yosieprodigy@gmail.com 

Tulisan ini pertama kali muncul di laman IndoPROGRESS, 10 Januari 2014: 
http://indoprogress.com/2014/01/tuhan-di-bumi/ 


45 


IV 


Usaha Memetakan Tuhan: Suatu Retrospeksi 

Martin Suryajaya 

NYARIS tiga tahun berlalu semenjak saya menulis artikel Marxisme dan 
Ketuhanan Yang Maha Esa. Tak lama setelah artikel itu turun di rubrik Logi¬ 
ka IndoPROGRESS, muncullah tanggapan dari Muhammad Ridha ( Tuhan 
Sebagai Eksepsi ) dan Hizkia Yosie Polimpung ( Tuhan Di Bumi). Ketika itu, 
saya tidak memberikan tanggapan balik karena kesibukan lain dan kare¬ 
na saya lebih suka mengawali perdebatan ketimbang ikut berlarut-larut di 
dalamnya. Beberapa waktu yang lalu, Coen Husain Pontoh mengabarkan 
bahwa artikel-artikel debat soal teologi Marxis itu akan dibukukan dan 
saya diminta memberikan tanggapan atas tulisan Ridha dan Yosie. Saya 
sendiri sudah lama tidak membaca tentang aspek-aspek teologi Marxis 
yang diperdebatkan. Jadi saya hanya bisa memberikan tanggapan yang 
agak umum saja. 

Saya, pertama-tama, akan menerangkan maksud artikel saya: mengurai¬ 
kan motivasi dasarnya, dasar pemikirannya dan kemungkinan penerapan¬ 
nya dalam diskusi lebih lanjut tentang Marxisme dan ketuhanan. Selanjut¬ 
nya, saya akan mengomentari pandangan alternatif dari Ridha dan Yosie 
tentang topik tersebut. Terakhir, saya akan menutup uraian ini dengan 
refleksi singkat tentang kesimpulan yang bisa ditarik dari diskusi kita. 

Mengapa Bicara Teologi Marxis dan Apa Pula Itu? 

Marxisme dan Ketuhanan Yang Maha Esa sejatinya ditulis sebagai usaha me¬ 
mikirkan ihwal ketuhanan dalam bingkai Marxisme, yakni sebuah usaha 
yang muara terselubungnya—seperti bisa disinyalir dari judulnya—ada¬ 
lah untuk mendamaikan Marxisme dan sila pertama Pancasila. Saya ingin 
menunjukkan bahwa filsafat Marxisme tidak bertentangan dengan Pan¬ 
casila. Dulu, di era 1960-an, Nyoto mencoba menunjukkan bahwa Marx- 
isme sebetulnya selaras dengan pengandaian sosio-politik Pancasila. Saya 
ingin menyumbangkan sesuatu pada jalur pemikiran yang sudah dirintis 


MARXISME DAN KETUHANAN YANG MAHA ESA 


Nyoto tersebut, khususnya pada kasus hubungan antara Marxisme dan 
pengandaian spiritual Pancasila. Dalam artikel tersebut, saya memang 
tidak membahas soal agama. Yang saya bahas adalah kemungkinan re¬ 
konsiliasi antara Marxisme dan ide “Ketuhanan Yang Maha Esa”, bukan 
agama. Persoalan agama mungkin akan saya bahas di kesempatan lain, 
mungkin juga tidak. 

Ide dasar dari artikel itu, seperti bisa Anda baca sendiri dari artikel saya, 
dapat dirumuskan dalam serangkaian argumen. Pertama , bahwa usaha 
mendamaikan antara Marxisme dan ide ketuhanan yang ada selama ini 
tidak memadai. Kedua, bahwa hakikat Tuhan dapat didekati melalui in¬ 
strumen logika (dengan memanfaatkan temuan-temuan tercanggih ilmu 
logika kontemporer). Ketiga, bahwa rumusan logis ketuhanan ternyata 
juga disyaratkan untuk kesahihan Marxisme. 

Kita mulai dari pokok pertama. Usaha yang ada selama ini untuk men¬ 
damaikan Marxisme dan ihwal ketuhanan biasanya dilakukan atas dasar 
pencocok-cocokan antara kutipan teks Marx dan kutipan kitab suci aga¬ 
ma-agama. Misalnya, usaha untuk menunjukkan bahwa secara aksiologis 
Marxisme dan agama Islam atau Katolik sama-sama punya motivasi moral 
dalam membela kaum lemah dan papa. Usaha seperti ini tidak salah, ha¬ 
nya saja saya kurang bisa melihat prospeknya selain sebagai sarana “dialog 
antar-agama” ( interfaith dialogue). Mengapa saya agak pesimis dengan usa¬ 
ha semacam itu? Sebabnya jelas, kerangka pendekatan Marxis atas kenya¬ 
taan berbeda sekali dengan kerangka pendekatan agama-agama. Semen¬ 
tara agama-agama melihat kenyataan dalam terang nilai-nilai baik dan 
buruk yang diasumsikan merupakan ketetapan Tuhan yang abadi, Marx- 
isme melihat nilai-nilai itu sebagai sesuatu yang relatif terhadap sejarah, 
konjungtur konflik kelas dan ideologi yang berlaku. Seperti saya bilang da¬ 
lam artikel, usaha dialog semacam itu bukannya tak berguna; teologi pem¬ 
bebasan di Amerika Latin, misalnya, merupakan bukti kesuksesan dari 
upaya semacam itu. Tapi itu bukan urusan saya. Jalur yang saya tempuh 
lebih problematis, dan karenanya juga lebih menantang. Urusan saya ada¬ 
lah membuktikan bahwa secara metodologis Marxisme dan visi ketuhan¬ 
an yang implisit dalam agama-agama sebetulnya memiliki kesamaan. Hal 
ini, tentu saja, tidak semencolok kesamaan antara motivasi moral antara 
Marxisme dan agama-agama. 


47 


Martin Suryajaya, dkk. 


Kita beralih ke poin kedua. Apa itu Tuhan? Tentu ada banyak jawaban atas 
pertanyaan soal hakikat Tuhan, mulai dari jawaban teologi positif (“Tuhan 
adalah pencipta alam semesta”, misalnya) sampai dengan jawaban teologi 
negatif (“Tuhan adalah bukan Tuhan”, “Tuhan adalah Dia sekaligus bu¬ 
kan Dia”, misalnya). Keragaman jawaban ini, berlawanan dengan angga¬ 
pan umum, bisa dirangkum melalui piranti logika. Di sini saya bekerja se¬ 
perti seorang kartografer; saya memetakan semesta-semesta logis, mulai 
dari yang paling umum dan mencakup semesta-semesta logis yang lebih 
sempit. Saya katakan bahwa semesta logis yang paling besar adalah se¬ 
mesta yang mencakup seluruh proposisi yang mungkin dan tak mungkin 
menurut standar logika Klasik. Di dalam semesta itu, terdapat proposisi 
yang benar seperti “A adalah A” sekaligus proposisi yang salah menurut 
pakem logika Klasik seperti “A adalah bukan-A”. Saya berpendapat bahwa 
semesta ini adalah Tuhan. Tuhan yang saya maksud bukanlah penyebab 
semesta itu; Tuhan adalah semesta itu. 

Mari kita lihat lebih teliti. Sebut saja semesta ini sebagai semesta Total, 
disingkat T. 


Tidakkah semesta logis paling umum ini terjebak dalam paradoks him¬ 
punan Russell? Dalam suratnya kepada Gottlob Frege, Bertrand Rus- 
sell menunjukkan bahwa ide tentang himpunan yang (1) menghimpun 
seluruh himpunan dan (2) bukan merupakan elemen dari dirinya sendiri 
itu kontradiktif. Sebabnya, apabila himpunan itu betul-betul menghim¬ 
pun seluruh himpunan, maka ia mesti menghimpun dirinya sendiri dan 
ini bertentangan dengan syarat 2. Apabila ia menghimpun dirinya sendiri, 
berarti ia lebih kecil dari dirinya sendiri. Paradoks Russell membatalkan 



48 



MARXISME DAN KETUHANAN YANG MAHA ESA 


kemungkinan bagi adanya himpunan semesta yang bersifat universal. 
Lalu bagaimana dengan semesta Total kita? 

Perlu diingat bahwa paradoks Russell berlaku karena ada pengandaian 
dalam sistem logika Klasik yang dia asumsikan berlaku, yakni Hukum 
Non-Kontradiksi yang menyatakan bahwa “A tidak mungkin sekaligus bu- 
kan-A” atau bahwa kontradiksi pasti salah. Pengandaian ini jadi problema¬ 
tis dengan kedatangan logika parakonsisten, logika kacau (fuzzy logic ) 
dan logika dialetheis sejak paruh kedua abad ke-20. Dalam berbagai tata 
logika yang lebih kontemporer itu, Hukum Non-Kontradiksi tidak berlaku 
universal, melainkan hanya merupakan provinsi kecil dari semesta logi¬ 
ka yang lebih besar. Semesta T, dengan demikian, adalah semesta yang 
memungkinan kebenaran kontradiksi (semesta dialetheis) dan semesta 
dengan nilai-kebenaran yang tak terhingga (semesta kacau /fuzzy). Oleh 
karenanya, paradoks Russell justru menjadi kontradiksi yang benar dan 
bukan lagi merupakan sebuah paradoks atau anomali dalam semesta T. 
“Paradoks” itu diterima sebagai ciri niscaya semesta itu sendiri. 

Kita bisa menyebut semesta ini sebagai semesta paling moderat. Artinya, 
semesta ini mencakup berbagai hal yang biasanya ditolak dalam sistem 
logika Klasik. Di dalamnya, kita dapat memetakan sejumlah semesta lain 
dengan hukum-hukum logika masing-masing. Misalnya, kita dapat meng¬ 
himpun sebuah semesta di mana tata logika dialetheis berlaku (Hukum 
Non-Kontradiksi berlaku untuk sebagian proposisi dan tidak untuk seba¬ 
gian proposisi lainnya. Sebut saja semesta ini sebagai semesta Dialetheis, 
disingkat D. 



49 






Martin Suryajaya, dkk. 


Himpunan Dialetheis jelas merupakan bagian ( subset ) dari himpunan 
Total. Sebabnya, seluruh anggota himpunan D adalah juga anggota him¬ 
punan T. Kemudian, kita dapat menghimpun sebuah semesta di mana tata 
logika Klasikbenar (Hukum Non-Kontradiksi berlaku). Sebut saja semesta 
ini sebagai semesta Klasik, disingkat K. Semesta ini jelas lebih kecil dari se¬ 
mesta D sebab semesta ini hanya mengizinkan keberadaan proposisi yang 
mematuhi Hukum Non-Kontradiksi, sementara semesta D mengakui baik 
proposisi yang sesuai dengan Hukum Non-Kontradiksi maupun proposisi 
yang bertentangan dengan Hukum Non-Kontradiksi. 



Setelah itu, kita dapat menghimpun sebuah semesta modal (semesta ke¬ 
mungkinan), di mana dicakup seluruh proposisi yang benar tentang ke¬ 
mungkinan-kemungkinan dunia fisik. Sebut saja ini semesta fisik yang 
Mungkin, disingkat M. 


50 







MARXISME DAN KETUHANAN YANG MAHA ESA 



Dalam semesta fisik yang mungkin ini, ada banyak hal yang bisa terjadi. 
Umpamanya, gajah bisa terbang, semut bisa berbahasa Indonesia, dst. 
Dalam semesta ini, proposisi dialetheis seperti “komoditas adalah benda 
sekaligus bukan-benda (relasi sosial)” benar, selain proposisi Klasik seperti 
“A adalah A dan bukan-bukan-A”. Di dalam semesta fisik yang mungkin 
inilah kita dapat menghimpun sebuah semesta yang mencakup setiap pro¬ 
posisi yang benar tentang dunia kita saat ini. Kita sebut ini sebagai semes¬ 
ta Aktual, disingkat A. 



51 














Martin Suryajaya, dkk. 


Dalam semesta Aktual ini, semua hal yang terjadi di dunia ini dicakup: ga¬ 
jah berjalan dengan empat kaki (tidak bisa terbang), semut berkomunikasi 
melalui antenanya (tidak bisa berbahasa Indonesia), dst. Namun, tak sam¬ 
pai di sini, semesta A bisa kita zoom in lebih jauh dengan mengelompokkan¬ 
nya ke dalam tiga segmen himpunan. Yang pertama, himpunan kenyataan 
aktual yang bergerak di bawah Hukum Fisik, disingkat F. Yang kedua, him¬ 
punan kenyataan aktual yang bergerak di bawah Hukum Ekonomi-Politik, 
disingkat E. Yang ketiga, himpunan kenyataan aktual yang bergerak di 
bawah Hukum Psikologis dan Moral, disingkat P. Dengan demikian, apa¬ 
bila himpunan A hendak kita zoom in, hasilnya adalah seperti berikut. 



Inilah peta logis semesta aktual kita. Di sana hukum moral-psikolo- 
gis merupakan bagian dari hukum ekonomi-politik, sementara hukum 
ekonomi-politik pada gilirannya merupakan bagian dari hukum semesta 
fisik yang aktual. Dengan begitu, hubungan antar semesta yang saya urai¬ 
kan ini dapat dirumuskan sebagai berikut: 

PCECFCMCKCDCT 

Dari situ juga bisa dilihat bahwa rentang pembahasan Marxisme tradision¬ 
al sangat sempit, yakni hanya berkenaan dengan himpunan P dan E, yaitu 
ranah psikologis-moral dan ekonomi-politik. Marxisme tradisional tidak 
membahas hukum biologi, kimia atau fisika yang tercakup dalam domain 

F. 


52 








MARXISME DAN KETUHANAN YANG MAHA ESA 


Kini, kita masuk ke pokok ketiga, yakni bahwa rumusan logis ketuhan¬ 
an ternyata juga disyaratkan untuk kesahihan Marxisme. Bagaimana ar¬ 
gumentasinya? Sebetulnya sudah nampak lewat pemaparan semesta-se¬ 
mesta logis di muka. Oleh karena Marxisme hanya membahas perkara 
dalam rentang himpunan P dan E, sementara kedua himpunan itu sendiri 
diserap dalam semesta-semesta logis yang lebih besar, maka Marxisme 
berhutang kesahihannya pada semesta-semesta tersebut—yang pada titik 
terakhir merupakan himpunan T. Dan T, seperti kita postulatkan di awal, 
adalah Tuhan. Ergo, Marxisme membutuhkan pengandaian tentang “Tu¬ 
han” (dalam pengertiannya yang telah dirampingkan secara logis menjadi 
himpunan dunia-dunia yang mungkin dan tak mungkin). Dengan begitu, 
Marxisme dan diskursus “ketuhanan” tidak asing satu sama lain. Selain 
itu, fakta bahwa dunia Aktual kita bukanlah satu-satunya dunia yang 
mungkin juga memiliki daya emansipatoris karena hal itu memungkinkan 
kita mempersepsi suatu dunia lain yang mungkin, suatu dunia di mana 
segala bentuk penindasan ditiadakan. 

Sampai di sini, pembaca mungkin sudah menyadari bahwa Tuhan yang 
saya maksudkan nampak begitu janggal bila dipandang dari perspektif a- 
gama. Tuhan yang saya maksud sama sekali tidak mempribadi. Tuhan itu 
tidak marah, tidak cemburu, tidak menyuruh-nyuruh, tidak peduli, tidak 
welas-asih, tidak berniat menyelamatkan manusia, dst. Persis karena Tu¬ 
han itu bukan Subjek atau Agensi, melainkan semesta objek-objek (yang 
mencakup baik itu objek empiris, objek modal, objek kontradiktif, objek 
paradoksal, objek ambigu, dsb.). Kendati tidak mempribadi, saya rasa e- 
sensi ketuhanan yang saya maksudkan dapat secara adil menangkap inti 
teologi (bahkan teologi negatif) dari seluruh agama, yakni konsepsi ten¬ 
tang suatu entitas paradoksal yang maha melampaui sekaligus meresa¬ 
pi segala sesuatu. Orang-orang zaman kuno menyebut entitas itu secara 
antropomorfis sebagai Tuhan. Saya sendiri memandangnya sebagai se¬ 
mesta logis yang komprensif dan lebih suka menyebutnya semesta Total. 
Tuhan yang saya maksudkan, kalau boleh dibilang, adalah Tuhannya para 
filsuf, matematikawan dan logikawan ketimbang Tuhannya umat beraga¬ 
ma. Namun dilihat dari sudut pandang umat beragama pun oke. Konsepsi 
tentang Tuhan yang mempribadi toh juga alat bantu untuk mendekatkan 
kita pada pengertian tentang Tuhan yang tak mempribadi. Bebas-bebas 
saja sih buat saya; dibikin enak saja. 


53 


Martin Suryajaya, dkk. 


Mengenai Prospek Tuhan Lacanian 

Sekarang kita akan beralih ke pandangan Ridha dan Yosie. Keduanya, 
kurang-lebih, beroperasi pada wilayah diskursus Lacanian—dengan sega¬ 
la konsep tentang yang-Lain-Besar, kekurangan, objek penyebab hasrat, 
death drive and whatnot. Sekarang tahun 2016 dan saya sudah lama tidak 
buka buku Lacan, Zizek, Badiou dan semacamnya. Jadi saya komentari 
saja semampu saya. 

Mengenai tulisan Ridha, pertama-tama saya ingin memberi beberapa kla¬ 
rifikasi teknis: 

• Ridha menulis: “Melalui proposisi teori himpunan Cantor, Tuhan da¬ 
lam argumen logis Martin adalah entitas yang mampu menghitung 
permutasi logis dari proposisi mungkin dan tak mungkin, layaknya 
komputer”. Bukan itu yang sebetulnya saya maksud. Ketika saya 
menyebut Tuhan sebagai “superkomputer”, saya hanya memaksud- 
kannya sebagai perumpamaan saja. Tuhan yang saya maksud adalah 
himpunan seluruh permutasi logis dari proposisi yang mungkin dan 
tak mungkin, bukan “entitas yang mampu menghitung” hal itu. Artin¬ 
ya, Tuhan tidak mempribadi dalam wujud terpisah dari semesta logis 
dan fisik; Tuhan bukan penyebab dari totalitas semesta logis dan fisik, 
Ia adalah totalitas semesta logis dan fisik. 

• Ridha menulis: “Martin berpendapat, keberadaan Tuhan dapat di¬ 
terima sejauh ide mengenai-Nya tidak bertentangan dengan hukum 
fisik yang berlaku.” Salah, karena Tuhan yang saya maksud adalah 
himpunan seluruh permutasi logis dari proposisi yang mungkin dan 
tak mungkin, maka sudah pasti ada dunia dengan hukum fisik lain 
(non-aktual) yang dicakup oleh Tuhan. Artinya, Tuhan tidak harus se¬ 
laras dengan hukum fisik di dunia kita ataupun dunia lain manapun. 
Sebagai himpunan, Tuhan lebih besar dari himpunan hukum semesta 
fisik. 

• Ridha menulis: “Semenjak iman (terhadap Tuhan) adalah sesuatu 
yang mubazir ( redundant ), maka keberadaan Tuhan itu sendiri adalah 
mubazir bagi konstruksi logika teologinya.” Salah, keberadaan Tuhan 


54 


MARXISME DAN KETUHANAN YANG MAHA ESA 


tidak mubazir bagi konstruksi "teologi” yang saya maksudkan sebab 
sejauh inti dari teologi itu adalah logika, dan keberadaan himpunan 
seluruh permutasi logis disyaratkan oleh logika itu, maka Tuhan ber¬ 
sifat mutlak disyaratkan dalam “teologi” tersebut. 

Setelah pokok-pokok kesalah-pahaman umum itu diklarifikasi, kita bisa 
meluncur ke duduk perkara selanjutnya. 

Ridha cenderung mendekati problem ketuhanan dari sudut pandang seja¬ 
rah sosial. Ia katakan: 

“pembuktian keberadaan Tuhan secara logis, tidak secara 
otomatis membuat Tuhan menjadi ada. [...] ide mengenai Tu¬ 
han mampu untuk memobilisasi manusia untuk berprilaku 
atas nama-Nya. Sebagaimana telah dibuktikan oleh sejarah, 

Tuhan menjadi ‘ada’ justru semenjak keimanan manusia atas 
Tuhan mengorganisasikan kepentingannya dalam terang ide 
Tuhan itu sendiri. Disinilah Tuhan menjadi isu bagi manusia, 
semenjak Ia adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah itu 
sendiri.” 

Di sini saya tidak sepakat. Pembuktian keberadaan Tuhan secara logis, 
menurut saya, secara otomatis memastikan keberadaannya secara logis. 
Tuhan mungkin tidak ada sebagai entitas fisik. Akan tetapi, sebagai se¬ 
mesta logis yang menubuh dalam semesta fisik “Tuhan” memang ada. Ia 
ada terlepas dari apakah manusia percaya atau tidak, terlepas dari apa¬ 
kah manusia memobilisasi-diri dan “berprilaku atas nama-Nya”. Tuhan, 
sebagai semesta logis, sudah implisit dalam semesta fisik ini. Pandangan 
Ridha cenderung bergerak di jalur fiksionalisme yang telah saya sebut di 
artikel awal saya, yakni pandangan bahwa Tuhan ada sejauh dipercaya. Se¬ 
baliknya, pandangan saya cenderung lebih realis, sebut saja sejenis “pan- 
theisme logis” atau “Sufisme logika” atau “logisisme Kejawen”. 

Secara umum, Ridha menempatkan Tuhan sebagai sesuatu di sela-sela ta¬ 
tanan semesta yang ada, sebagai pengecualian (“eksepsi”) yang membatal¬ 
kan totalitas dan totalisasi kenyataan. Berangkat dari metafisika Lacanian, 
Ridha mengartikan semesta kenyataan sebagai ranah yang dicirikan oleh 


55 


Martin Suryajaya, dkk. 


kekosongan dan ketaklengkapan. Dalam arti itu, pengecualian justru men¬ 
jadi aturan main dasarnya. Di satu sisi seperti itu. Namun di sisi lain, Ridha 
bicara tentang Tuhan sebagai sesuatu yang ada sejauh diimani. Ia menu¬ 
lis: “semenjak Tuhan dalam konstruksi materialis adalah eksepsi radikal 
dari realitas, maka iman adalah kepercayaan mutlak atas eksepsi tersebut. 
Realisasi atas kepercayaan mutlak ini yang membuat Tuhan meng-ada dan 
aktual pada dirinya sendiri.” Jadi, dalam arti tertentu, Tuhan tidak ada 
apabila tidak ada orang yang mempercayainya. Kalau betul begitu, dan Tu¬ 
han adalah nama lain dari struktur pengecualian yang inheren dalam ke¬ 
nyataan, maka bisakah disimpulkan bahwa pengecualian hanya ada sejauh 
ada “realisasi kepercayaan mutlak”? Sungguhkah struktur pengecualian 
yang membatalkan totalitas kenyataan cuma fungsi dari keimanan sub¬ 
jek revolusioner? Tidakkah struktur pengecualian itu sudah ada di kenya¬ 
taan dan itulah yang memungkinkan keimanan subjek revolusioner? De¬ 
ngan kata lain, apakah struktur pengecualian hanya ada sejauh ada yang 
mengimani? Kalau memang begitu, kita ajukan pertanyaan padanannya: 
apakah kapitalisme hanya bermasalah sejauh diyakini bermasalah oleh 
segelintir aktivis revolusioner? Bukankah dengan begitu Ridha terjatuh ke 
bahaya infantile disorder yang disebut Lenin sebagai “komunisme sayap-ki- 
ri”? Solusinya: partai Kiri sebagai persekutuan doa? 

Mari berpaling ke tulisan Yosie. Artikel Yosie sebetulnya merupakan maka¬ 
lah yang disampaikan pada kesempatan lain, sehingga isinya tidak secara 
langsung menanggapi apa yang saya tulis dalam artikel. Biarpun begitu, 
ia mengajukan pandangan alternatif tentang ketuhanan materialis yang 
bisa ditanggapi sepaket dengan Ridha. Seperti halnya Ridha, Yosie berang¬ 
kat dari kerangka pikir Lacanian yang melihat kenyataan sebagai sesua¬ 
tu yang tak lengkap, yang senantiasa berkekurangan. Seperti juga Ridha, 
Yosie mengartikan kekurangan konstitutif kenyataan itu sebagai Tuhan, 
yakni “Tuhan transendental” atau Tuhan yang imanen dalam struktur 
persyaratan keberadaan kenyataan, alih-alih sebagai “Tuhan transenden” 
atau Tuhan sebagai agen independen yang berada di luar semesta mate¬ 
rial. Yosie memandang bahwa Tuhan transendental itu punya fungsi ke- 
agenan. Seperti apakah itu? Penjelasannya tentang hal itu justru masuk 
ke keimanan manusia dalam melakukan perlawanan terhadap totalisasi 
kenyataan. Dengan kata lain, seperti halnya Ridha, keagenan Tuhan jus¬ 
tru pada akhirnya dipasrahkan sebagai fungsi keimanan subjek revolusi- 


56 


MARXISME DAN KETUHANAN YANG MAHA ESA 


oner. Karena itu, sanggahan yang sama berlaku juga pada Yosie. Setelah 
itu, Yosie masuk ke dalam uraian eksegesis tentang kutipan Alkitab untuk 
menunjukkan bahwa moralitas nabi-nabi selaras dengan moralitas revolu¬ 
sioner kita di tradisi Kiri. Saya sendiri tak akan berkomentar lebih lanjut 
soal itu karena, dari awal saya katakan, pencocok-cocokan kitab suci dan 
kitab Marxis memang bukan maksud saya. Sebabnya jelas, kesamaan di ta¬ 
taran aksiologis itu levelnya basa-basi, tidak sungguh-sungguh struktural 
dan langgeng seperti halnya kesamaan di tataran metodologis. 

Apa Yang Bisa Disimpulkan Dari Semua Ini? 

Kita sudah lihat bahwa konstruksi konseptual ketuhanan Lacanian agak 
goyah dan kurang meyakinkan secara logis. Apa yang mau saya tunjukkan 
di akhir tulisan ini adalah bahwa aspirasi dasar Ridha dan Yosie sebetul¬ 
nya bisa diselamatkan dalam model teologi materialis yang saya ajukan. 
Perhatian mereka berdua sebetulnya ini: bagaimana supaya kenyataan ak¬ 
tual dibuktikan sebagai kenyataan yang tidak total, tak benar-benar stabil, 
dicirikan oleh kekurangan konstitutif—singkatnya, problematis. Arahnya 
jelas, emansipasi hanya bisa jalan kalau kenyataan yang ada sekarang ber¬ 
masalah sebab ciri problematis kenyataan aktual merupakan raisort d’etre 
bagi emansipasi terhadapnya. Saya, tentu saja, bersimpati pada aspirasi 
ini. Yang tidak saya sepakati dari mereka hanyalah rute yang mereka tem¬ 
puh untuk menjamin kesimpulan itu. 

Buat saya, permasalahan utama dari pendekatan Lacanian dan Zizekian 
yang mereka pakai adalah ketidak-akuratannya. Mereka bicara tentang 
“eksepsi”, “kekurangan”, “totalisasi”, dst., tanpa menspesifikasi semesta 
diskursusnya secara jelas. Itulah sebabnya saya selalu mendekati perkara 
ketuhanan dan ciri problematis kenyataan aktual sambil terus-menerus 
mengawasi pergantian ranah pembicaraan. Itulah sebabnya, dengan kata 
lain, saya menggunakan pendekatan seorang “kartografer”. Saya meng¬ 
gunakan konsep himpunan bukan karena saya seorang Badiousian—saya 
malah sudah lupa dengan Badiou. Saya menggunakannya semata ka¬ 
rena konsep itu membantu mensistematisasi pembicaraan kita, meng- 
golong-golongkannya ke dalam ranah yang sesuai. Tanpa kemawasan logi¬ 
ka semacam ini, pembicaraan kita akan amat sangat tidak akurat. 


57 


Martin Suryajaya, dkk. 


Berikut ini akan saya tunjukkan bagaimana dalam paradigma teologi ma¬ 
terialis yang saya tawarkan, aspirasi dasar Ridha dan Yosie bisa menda¬ 
pat tempat. Kalau tujuannya cuma untuk menunjukkan bahwa kenyataan 
aktual ini berciri kontradiktif, tidak lengkap dan terstruktur oleh penge¬ 
cualian, kita hanya perlu kembali membaca peta semesta logis yang saya 
berikan. Semesta aktual kita atau himpunan A, seperti telah kita lihat, 
sama sekali tidak total. Semesta itu tercakup dalam semesta yang lebih 
besar, seperti himpunan M, K, D dan T. Artinya, sudah dengan sendirinya 
terlihat bahwa semesta aktual kita tidak lengkap (karena masih ada semes¬ 
ta-semesta lain yang mungkin yang dihimpun di M) dan terstruktur oleh 
komponen semesta yang berlawanan (misalnya semesta logika Klasik dan 
semesta logika Dialetheis). Karena Tuhan adalah semesta T yang men¬ 
cakup dunia Aktual, maka dunia Aktual itu pun terstruktur oleh pengecua¬ 
lian yang bersumber dari semesta T, dengan kata lain, Tuhan. Perkaranya 
mudah begitu kita merumuskan domain-domain logika itu dengan jelas 
dan terpilah-pilah: lihat petanya. 

Terakhir saya bisa menambahkan hal yang belum banyak dibahas dalam 
artikel saya tetapi banyak dibahas di artikel Ridha dan Yosie, yakni tentang 
subjek sebagai agensi. Apakah dengan mendekati persoalannya secara 
logis, saya tidak menciutkan keagenan subjek pada tindak pengetahuan 
saja dan mengabaikan praktik revolusioner? Menurut saya, praktik bukan¬ 
lah sesuatu yang asing dari teori. Seperti pernah saya tunjukkan beberapa 
kali, praktik adalah konsekuensi logis dari teori. Pengetahuan tentang ciri 
problematis kapitalisme meniscayakan tindakan untuk menggempurnya 
dan mewujudkan tatanan masyarakat sosialis yang lebih baik. Tidak ada 
jurang yang memisahkan teori dari praktik. Selain itu, keduanya juga inte¬ 
gral sejauh berpikir adalah suatu praktik. Berpikir dan berteori bukanlah 
sesuatu yang berbeda dari bertindak. Oleh karena itu, ditinjau dari mana¬ 
pun, teori dan praktik itu sewujud. Konsekuensinya, dengan menyediakan 
pemetaan dari masalah ketuhanan dan keterbatasan kenyataan aktual, 
saya secara tak langsung juga menyiapkan kerangka bagi pembentukan 
subjek. Bedanya dari Yosie dan Ridha adalah bahwa saya belum berteori 
tentang subjek itu. Mengapa demikian? Karena saya merasa kita akan bisa 
mendudukan konsep subjek dengan tepat apabila kita sudah memeta¬ 
kan secara terperinci duduk perkara semesta objek terlebih dahulu. Dan 
pemetaan terperinci itulah yang masih memusingkan saya tahun-tahun 


58 


MARXISME DAN KETUHANAN YANG MAHA ESA 


belakangan ini. 

Begitu saja dari saya. Sampai jumpa lagi di buku lain.*** 
15 Mei 2016 


Biodata Penulis 

Hizkia Yosie Polimpung adalah peneliti dan penulis; sedang melakukan 
penelitian mengenai “Drama Kehidupan Pekerja Imaterial di Era Femini- 
sasi Ekonomi” di Unit Noctua Co-Studio: Artisan, DIY & Literati, di Kope¬ 
rasi Riset Purusha. 

Martin Suryajaya adalah penulis tetap rubrik Logika, IndoPRO- 
GRESS. 

Muhammad Ridha adalah Sekretaris Wilayah KPRI Jakarta, Ang¬ 
gota Partai Rakyat Pekerja (PRP) dan dan Pemimpin Redaksi Left 
Book Review (LBR), IndoPROGRESS. 


59 






INDOfPhOGRESS